UNAIR NEWS – Bencana banjir di Sumatra yang terjadi sekitar akhir bulan November 2025 telah memakan ribuan korban, menghilangkan ratusan insan, meluluhlantakkan belasan wilayah, merenggut ratusan ribu atap tempat jiwa berpulang. Berbagai perbaikan digalakkan, rehabilitasi dipercepat, rekonstruksi diperluas. Tak hanya pemerintah, antusiasme masyarakat umum untuk membantu korban bencana pun terasa sangat membara. Warga bantu warga menjadi hashtag paling utama di sosial media. Aksi nyata masyarakat, mulai dari public figure Ferry Irwandi yang menggalang dana Rp 10 Miliar dalam waktu 24 jam, bantuan dari para influencer, komunitas motor, olahraga, pecinta Kpop, mahasiswa, hingga para seniman pun turut berkompetisi positif untuk membantu pemulihan bencana di Sumatra yang hingga saat ini masih membutuhkan tangan kita.
Sementara kami, mahasiswa BBK 7 Unair 2 membantu dengan kemampuan dan pengetahuan yang kami punya. BBK atau Belajar Bersama Komunitas ini bertujuan untuk mendorong perubahan berdasarkan prinsip hak asasi manusia serta memastikan kesetaraan dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan. SDGs mencakup 17 tujuan dengan 169 target untuk agenda ketercapaian hingga tahun 2030. Dalam poin Sdgs ke 17 yakni Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) ini tim BBK 7 Desa Sekarbagus mengimplementasikan program “Kecil Menanam Dewasa Memanen”. Bersama SD Negeri 1 Sekarbagus program ini tidak hanya sebagai aksi karitatif sesaat, namun juga sebagai kolaborasi jangka menengah untuk edukasi pascabencana.
Sambutan hangat dari sekolah memacu semangat tim kami untuk berbagi peran. Program “Kecil Menanam Dewasa Memanen” menjadi ruang kolaborasi dalam membangun kesadaran ekologis siswa sekaligus mewujudkan visi sekolah menjadi lingkungan yang asri dan hijau. Sekolah mendukung penuh program ini dengan menyediakan benih tumbuhan, tanah, pupuk, hingga pot tanaman. Kegiatan dimulai dengan senam bersama kemudian dilanjutkan dengan sambutan kepala sekolah SD Negeri 1 Sekarbagus, yakni Bapak Prapto Mulyono, S.Pd.
“Kehadiran tim KKN Unair disini membawa angin segar untuk sekolah, selain berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan sekolah yang asri juga memberikan semangat adik-adik disini agar belajar segiat mungkin untuk menggapai cita-citanya.” Ujar Pak Prapto dalam sambutan hangatnya.
Kami pun tak lupa memberikan edukasi tentang pentingnya menanam pohon yang mampu menyerap air lebih banyak, seperti pohon mangga dan pohon jati yang akarnya mampu menembus kedalaman tanah hingga beberapa meter sehingga lebih efektif dalam menanggulangi banjir. Berbeda dengan pohon kelapa sawit yang akarnya dangkal sehingga kurang mampu meresap air dalam jumlah yang banyak. Siswa-siswi sangat berantusias dalam praktik menanam pohon. Mulai dari mencampurkan tanah dengan pupuk, menanam tumbuhan dalam pot, mencangkul tanah yang sudah mengeras di taman sekolah. Guru SDN 1 Sekarbagus didampingi tim BBK 7 Sekarbagus, membuat seluruh siswa mulai dari kelas 1 sampai 6 SD terlibat dengan penuh semangat.
Melalui program “Kecil Menanam Dewasa Memanen”, kolaborasi antara mahasiswa BBK 7 Unair dan SDN 1 Sekarbagus menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berbentuk rekonstruksi fisik, tetapi juga rekonstruksi kesadaran. Pendidikan lingkungan sejak dini menjadi fondasi penting untuk membangun kesadaran generasi yang lebih tangguh terhadap bencana yang tidak diinginkan di masa depan.
Penulis: Alma Natasya





