UNAIR NEWS – Antusias dan semangat tampak pada wajah peserta Airlangga ASEAN +3 Youth Conference and Cultural Programme (AAYCCP) 2017, Rabu sore (22/11). Bertempat di Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C Universitas Airlangga, mereka mengikuti parade budaya sebagai bagian dari rangkaian AAYCCP 2017 yang dimulai pada Senin hingga Rabu (20–23/11).
Dalam parade budaya, para peserta dikenalkan dengan budaya Indonesia. Mulai musik sampai permainan tradisional. Untuk musik tradisional, mereka dikenalkan dengan instrumen-instrumen alat gamelan seperti saron, demung, gong, kendang, bonang, dan kenong.
Mereka juga diberi kesempatan memainkan beberapa gending, lagu Jawa, dolanan. Permainan-permainan tradisional seperti engklek, lompat tali, dan bola bekel turut diperkenalkan sekaligus dimainkan peserta. Bahkan, di pos yang lain, mereka bisa berkreasi dengan canting pada kain putih yang disiapkan.
Dengan dipandu perajin batik dari salah satu rumah batik di Mojokerto, peserta begitu serius mengikuti arahan membuat batik. Mulai mengambar pola, tahap pewarnaan, hingga pengeringan.
”Ini sangat luar biasa. Meski awalnya kesulitan karena harus detail, saya sangat senang bisa belajar. Membatik ternyata sangat menyenangkan,” ungkap Marcel, salah seorang peserta dari Togo, Afrika Barat, setelah belajar membatik.
Sementara itu, pada sela-sela kegiatan, Koordinator Acara Nadia Syifa Widjaksono menyebutkan bahwa AAYCCP 2017 adalah salah satu event internasional yang kali pertama digelar BEM KM UNAIR melalui kolaborasi antara kementerian hubungan luar (hublu) dan keilmuan. Selain ikut menyokong UNAIR masuk peringkat 500 dunia, lanjut dia, event itu merupakan bentuk dukungan pada program United Nations (UN).
”Ini adalah event internasional BEM pertama. Yang terdiri atas kegiatan keilmuan, kebudayaan, dan keakraban. Jadi, proporsi kegiatannya seimbang, education dan fun. Sekaligus parade budaya ini sekaligus bentuk diplomasi budaya BEM kepada peserta dari berbagai negara,” tuturnya.
Sebelum parade budaya, dilaksanakan FGD (focus group discussion). Yakni, presentasi dan diskusi paper dari peserta terkait masalah dalam berbagai sudut pandang. Baik dalam maupun luar negeri.
Nadia menambahkan, dalam diskusi dan presentasi tersebut, juga bakal dipilih beberapa kategori pemenang. Di antaranya, best paper; best speaker I, II, dan III; most inovative person; most outstanding person; serta most solutive FGD team. Bahkan, total hadiahnya mencapai 15 juta.
”Jadi, setelah serangkaian acara ini selesai. Mulai hari pertama gala dinner di rumah dinas Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, hari kedua seminar internasional, hari ini FGD dan parade budaya, dan besok penutupan di Hall Rektorat. Hasilnya, terutama dari paper, dikusi, seminar, dan forum sharing, bakal dibawa ke sekretariat ASEAN di Jakarta oleh BEM,” jelas mahasiswa hubungan internasional 2016 tersebut. (*)
Penulis: Feri Fenoria
Editor: Nuri Hermawan





