Universitas Airlangga Official Website

Kenalkan Nilai Budaya Madura, UNAIR Hadirkan Budayawan hingga Akademisi dalam GeLORa

Berurutan tiga dari kiri, Prof Dr Siti Marwiyah SH MH, KH D Zawawi, dan Dr Edy Yuwono Slamet MA dalam diskusi kebudayaan Madura pada GELORA 2025
Berurutan tiga dari kiri, Prof Dr Siti Marwiyah SH MH, KH D Zawawi, dan Dr Edy Yuwono Slamet MA dalam diskusi kebudayaan Madura pada GELORA 2025 (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-71, Universitas Airlangga (UNAIR) menghelat Gebyar Langgam Orang Madura (GeLORa). GeLORa merupakan sebuah ruang dialog budaya yang mempertemukan akademisi, budayawan, dan masyarakat Madura. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (13/11/2025) di Airlangga Convention Center (ACC) Kampus MERR-C UNAIR, dan menjadi pembuka rangkaian acara GELORA yang akan terselenggara hingga Minggu (16/11/2025) mendatang.

Pada sesi diskusi kebudayaan Madura, hadir tiga narasumber utama, yakni budayawan sekaligus penyair asal Madura, KH D Zawawi Imron; Rektor Universitas Dr Soetomo, Prof Dr Siti Marwiyah SH MH; serta akademisi dan peneliti budaya, Dr Edy Yuwono Slamet MA. Ketiganya menyoroti kekayaan nilai budaya Madura, mulai dari falsafah hidup, relasi sosial, hingga daya juang masyarakatnya.

Mengawali sesi diskusi, KH Zawawi mengajak peserta untuk melihat budaya Madura melalui sisi yang paling mendasar, yakni melalui hati. Ia menjelaskan bahwa masyarakat sering mengenal orang Madura dari keberanian dan karakter kerasnya. Padahal, terdapat nilai hidup yang menjadi pegangan mereka sejak lama.

KH Zawawi menegaskan bahwa dalam budaya Madura, ucapan dan perilaku seseorang dianggap sebagai cerminan dari nilai hidup yang ia pegang. Karenanya, menyakiti hati orang lain bukan bagian dari ajaran budaya Madura. “Orang yang hatinya bersih itu tidak akan mengeluarkan kata-kata yang melukai. Kalau sampai menyakiti orang lain, berarti sedang ada nilai yang goyah dalam dirinya,” ujarnya.

Untuk menggambarkan nilai tersebut, Zawawi turut membacakan beberapa pantun dan syair Madura. Baginya, keberanian orang Madura bukan soal kerasnya sikap, tetapi komitmen untuk menjaga martabat diri dan keluarga.

Melanjutkan diskusi, Prof Siti Marwiyah menyoroti kekuatan solidaritas masyarakat Madura yang terkenal melalui konsep tretan atau persaudaraan yang melampaui hubungan keluarga inti. Menurutnya, solidaritas ini tampak dalam hampir setiap aspek kehidupan. Mulai dari kegiatan sosial, dukungan ketika ada musibah, hingga keberanian orang Madura merantau ke berbagai wilayah.

“Di mana pun berada, orang Madura akan saling menjaga. Itulah yang membuat komunitas Madura tumbuh kuat, bahkan hingga lintas negara.” imbuhnya.

Prof Siti menuturkan bahwa solidaritas tersebut berjalan beriringan dengan nilai harga diri, yang menjadi salah satu prinsip paling masyarakat Madura jaga. Nilai tersebut tampak mulai dari cara mereka bekerja hingga cara mengambil peran dalam keluarga. “Orang Madura itu terkenal pekerja keras dan punya rasa tanggung jawab yang besar. Harga diri bagi mereka adalah hal yang sangat dijaga,” pungkasnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana M

Editor: Yulia Rohmawati