Penelitian terbaru mengungkap bahwa diabetes melitus (DM) tidak hanya disebabkan oleh faktor gaya hidup, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kesenjangan sosial dan ekonomi di masyarakat Indonesia. Studi ini dilakukan oleh tim peneliti Indonesia yang terdiri dari Yourisna Pasambo, Ferry Efendi, Syamsu Alam, Rifky Octavia Pradipta, Fadhaa Aditya Kautsar Murti dan Alfi Syahri menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2023 dari Kementerian Kesehatan.
Hasil riset yang dipublikasikan di jurnal internasional SAGE Open Medicine ini menemukan bahwa prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 3,08%, atau sekitar 951 orang dari seluruh responden yang diteliti. Menariknya, kasus diabetes justru lebih banyak ditemukan pada kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi yang lebih tinggi. “Orang yang memiliki penghasilan dan pendidikan lebih baik cenderung memiliki gaya hidup modern yang meningkatkan risiko diabetes, seperti kurang bergerak, konsumsi makanan tinggi kalori, dan stres kerja,” jelas tim peneliti. Studi ini juga menunjukkan bahwa akses terhadap teknologi dan lingkungan tempat tinggal berpengaruh pada risiko diabetes. Hanya sekitar 3% responden yang menggunakan layanan telemedisin, namun kelompok ini tercatat memiliki prevalensi DM yang lebih tinggi. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki telepon atau tinggal di daerah dengan akses air bersih dan fasilitas kesehatan lebih baik cenderung memiliki risiko diabetes yang lebih rendah.
Selain itu, pengangguran dan rendahnya tingkat pendidikan juga terkait dengan meningkatnya angka diabetes. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketimpangan sosial ekonomi masih menjadi faktor kunci dalam kesehatan masyarakat Indonesia. Peneliti menilai bahwa solusi jangka panjang bukan hanya dengan memperluas layanan pengobatan, tetapi juga memperkuat peran Puskesmas sebagai pusat deteksi dini dan perawatan penyakit kronis. Mereka juga mendorong pemerintah untuk memperluas akses digital kesehatan serta mengembangkan edukasi kesehatan yang sesuai dengan budaya lokal agar pesan pencegahan diabetes lebih efektif menjangkau masyarakat luas. “Diabetes bukan hanya masalah medis, tetapi juga cerminan ketimpangan sosial yang perlu diselesaikan bersama,” tulis tim peneliti dalam publikasinya. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pembuat kebijakan untuk merancang program kesehatan yang lebih adil, sehingga masyarakat dari berbagai lapisan ekonomi memiliki peluang yang sama untuk hidup sehat dan terhindar dari penyakit kronis seperti diabetes.
Penulis: Yourisna Pasambo dan tim.
Detail tulisan ini dapat dilihat di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/socioeconomic-disparities-among-people-with-diabetes-mellitus-dm-/





