UNAIR NEWS – Memori sosial merupakan faktor penting untuk merawat sejarah. Peristiwa Mei 1998 merupakan satu bentuk memori sosial yang melekat pada Indonesia. Khanis Suvianita MA, Dosen Universitas Surabaya, menjelaskan bahwa gerakan rakyat pada Mei 1998 merupakan gelombang protes yang masif.
“Gelombang gerakan rakyat Indonesia tahun 98, berawal dari mereka yang masa mudanya melihat ketidakadilan. Kemudian mereka mulai melawan lewat protes di sekolah-sekolah. Kemudian, hal ini terwujud lebih besar pada areal pemerintahan.
Lantas, gerakan mahasiswa, buruh, petani, dan nelayan menjadi terhubung dalam satu gelombang besar pada Mei 98,” ungkapnya dalam Kuliah Tamu Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) pada Rabu (10/5/2023).
Dosen Universitas Surabaya tersebut menyebutkan gerakan pada Mei 1998 adalah proses mencari keadilan. “Gelombang protes berupaya mendorong Soeharto untuk turun dari jabatannya. Kemudian ini menjadi kesadaran yang menghubungkan semua orang,” jelasnya.
Khanis menambahkan, “Pemicu peristiwa Mei 1998 tidak terjadi karena satu faktor saja. Tetapi, pada saat itu juga bersamaan dengan krisis ekonomi. Termasuk negara seperti Thailand dan Korea. Jadi, terdapat persoalan yang kompleks di Asia pada waktu itu.”
Kekerasan, Penjarahan, dan Kericuhan
Peristiwa tersebut memberikan memori yang membekas untuk bangsa. Tidak hanya gerakan protes saja. Tetapi, kekerasan, penjarahan dan kericuhan terjadi.
Terlebih, kekerasan bagi keturunan perempuan Tionghoa. Khanis menyebutkan bahwa pada peristiwa tersebut penjarahan masif terjadi di daerah Solo, Jogjakarta, dan Jakarta.
“Di Surabaya sendiri terjadi kericuhan dan penjarahan di area timur pada waktu itu. Area yang identik dengan Tionghoa, Madura dan Arab. Diikuti juga dengan kekerasan pada perempuan,” tutur Dosen Universitas Surabaya.
Perubahan Politik setelah Peristiwa Mei 1998
Khanis mengungkapkan, “Terjadi transisi pasca peristiwa tersebut. Dari era otoriter Orde Baru menjadi era Reformasi.” Khanis menilai bahwa reformasi membuka ruang gerak bagi demokrasi.
Gelombang demonstrasi masih terjadi pasca turunnya Soeharto dari jabatan presiden. “Ini terjadi karena masih ada kontestasi politik untuk mengisi kursi kosong dalam pemerintahan. Juga, pertarungan elite politik juga luar biasa terjadi,” ungkapnya.
Di akhir, Khanis menyampaikan, “Peristiwa Mei 98 mengubah wajah kebangsaan kita dalam hubungan relasi antar warga negara. Kemudian, terkadang ketika melihat negara kita abai terhadap suatu perubahan yang terjadi.”
Penulis: Muhammad Naufal Rabbani
Editor:





