UNAIR NEWS – Mikrotia merupakan kondisi saat daun telinga tidak terbentuk secara sempurna. Akibatnya, para penderita mikrotia akan mengalami gangguan pendengaran. Keistimewaan ini yang dirasakan oleh Hebert Adrianto, mahasiswa program S3 Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR).
Lewati Proses Panjang dan Rintangan
Perjuangannya dalam merampungkan studi dijalani dengan proses yang panjang dan penuh rintangan. Tercatat, Hebert merupakan alumnus program sarjana di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR dan program magister di FK UNAIR. Hebert menceritakan bahwa mikrotia telah dirinya alami sejak lahir. Kendati demikian, ia tidak pernah kehabisan akal untuk bisa mengikuti perkuliahan dengan baik.
“Kalau kuliah, saya duduk di depan tidak mungkin di tengah atau belakang. Saya harus mendengarkan suara sambil melihat gerakan bibir dosen pengajar, untuk memahami apa yang disampaikan oleh dosen,” terangnya.Hebert sempat kesulitan dalam melalui tes English Language Proficiency Test (ELPT) sebagai salah satu syarat kelulusan.

“Saat tes ELPT, perjuangannya mati-matian. Saya harus mencoba tiga kali baru lulus. Saya hanya sanggup mendengarkan soal listening di awal, semakin ke belakang saya tidak bisa menangkap suaranya,” ungkap mahasiswa yang juga dosen di Universitas Ciputra tersebut.
Proses sidang disertasi terbuka pada Kamis (16/11/2023) menjadi tantangan lain yang harus Hebert hadapi. Ia mangakui tidak pernah membayangkan akan berhadapan langsung dengan penguji dengan jarak yang jauh.
“Ketakutan saya ada pada masalah telinga waktu itu. Lokasi sidang berada di ruang aula yang besar, jadi saya khawatir suaranya bergema. Kalau bergema saya tidak bisa mendengar dengan jelas,” ungkapnya.
Namun berkat restu dari Tuhan, Hebert berhasil menyelesaikan sidang doktor terbuka dengan baik. “Perjuangan banget saat ujian sidang terbuka, tapi jalan yang Tuhan berikan selalu baik,” paparnya.
Sosok Penulis Buku yang Gigih
Selain aktif menjadi mahasiswa S3 dan dosen, Hebert tercatat sebagai penulis buku. Ia telah menerbitkan 36 buku sejak 2018. Meski hobi menulis, Hebert pernah mengalami penolakan naskah dari penerbit. Hal ini lantaran proses seleksi yang ketat. “Naskah ditolak penerbit itu pernah. Setiap penerbit punya standar masing-masing jadi seleksi mereka tidak main-main,” ucapnya.
Hebert tak pernah patah semangat meski naskahnya ditolak. Ia terus mengembangkan kemampuannya dalam menulis. Kegigihan Hebert akhirnya membuahkan hasil, dengan bangga ia dapat melihat buku yang ia tulis berjejer dengan buku-buku penulis ternama. “Kalau penerbit menolak, kuncinya adalah nggak boleh kecewa atau sakit hati,” katanya.
Bagi pria kelahiran 1990 ini, menulis bukanlah bakat yang datang begitu saja. Hanya saja kemampuan menulis perlu diasah terus-menerus. Hebert menyarankan jika ingin menentukan ide tulisan, pilihlah sesuatu yang menjadi kesukaan. “Kalau suka jalan-jalan buatlah buku tentang traveling, begitu juga kalau suka makan buatlah buku dengan ide kuliner,” sarannya.
Tanamkan Rasa Percaya Diri
Keistimewaan telinga yang Hebert miliki menjadikan tampilan rambutnya lebih panjang dibanding pria kebanyakan. Tapi, Hebert selalu menanamkan rasa percaya diri. Ia percaya bahwa di balik keistimewaan yang Tuhan berikan, setiap manusia punya potensi untuk dikembangkan.
“Jangan pernah menyalahkan keadaan atau situasi. Ada jalan yang entah akan Tuhan bawa ke mana. Percayalah diri dan tetap semangat menjalani hidup,” ujarnya.
Hebert berpesan kepada teman-teman yang juga senasib penyandang mikrotia untuk tetap semangat dan selalu berjuang, sebab manusia memiliki kesempatan yang sama. “Kita perlu berjuang seperti orang-orang pada umumnya, memberikan dan menjadi yang terbaik, dan selalu bermanfaat untuk orang banyak,” tegasnya.
Penulis: Icha Nur Imami Puspita
Editor: Khefti Al Mawalia





