UNAIR NEWS – Perayaan Hari Kearsipan Nasional ke-54 tahun 2025 kembali jadi momen baik bagi Pemerintah Kota Surabaya, tak terkecuali Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR. Tiga civitas academica FIB UNAIR yakni Prof Dr Purnawan Basundoro, Dr Samidi, dan Kukuh Yudha Karnanta SS MA, turut berperan dalam tim ahli pengusulan Arsip Makam Eropa Peneleh (MEP) sebagai Memori Kolektif Bangsa, mendampingi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya.
Mulai menyusun sejak Oktober 2024, Arsip MEP itu lantas berhasil ditetapkan sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB) di Jakarta pada Kamis (22/5/2025). “Tentu saja kami ikut bangga, karena itu artinya FIB UNAIR dapat berkontribusi langsung terhadap kerja-kerja memori kolektif bangsa. Melalui kerja sama yang baik dan berkelanjutan dengan Pemerintah Kota Surabaya,” ujar Purnawan Basundoro, Dekan FIB UNAIR.
Tahapan Ketat
Guru Besar Sejarah Kota tersebut ikut langsung membersamai Mia Santi Dewi, Kepala Dispusip Kota Surabaya, saat mempresentasikan Arsip MEP di hadapan Dewan Pakar Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Setiap tahunnya, ANRI menyelenggarakan program register MKB yang diikuti oleh lembaga-lembaga negara dan pemerintah daerah dari seluruh Indonesia. Tidak semua usulan MKB ditetapkan ANRI, melainkan harus melewati beberapa tahapan ketat. Setiap usulan arsip dinilai keasliannya, juga arti pentingnya bagi bangsa Indonesia. Baik dalam konteks sejarah, budaya, maupun kontribusinya bagi pengetahuan.
Dari siaran pers resmi ANRI nomor HM.02.07/9/2025 tentang Penetapan Arsip dalam Memori Kolektif Bangsa Tahap I Tahun 2025 diketahui, arsip tertua MEP berasal dari tahun 1848. Yang terbaru, dari tahun 2024, berupa SK Walikota Surabaya yang menetapkan Makam Eropa Peneleh sebagai Situs Cagar Budaya. Arsip MEP secara lengkap merelasikan antara rekaman (catatan dokumen) yang masih terawat dengan artefak berupa fisik makam maupun ragam arsitekturnya.
“Tantangannya memang tim harus bisa membuktikan arsip-arsip itu terkait satu dan lainnya. Antara dokumen, nama-nama, serta keunikan arsitekturnya,” lanjut Purnawan yang juga menjadi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Surabaya ini.
Oleh karena itu, terkait dengan uraian ragam tipologi arsitektur makam, Yayan Indrayana dari Ikatan Arisitek Indonesia (IAI) dan komunitas Begandring Soerabaia turut tergabung dalam tim yang dibentuk Dispusip Surabaya. Kolaborasi apik lintas institusi ini sejalan dengan komitmen FIB UNAIR dalam SDGs 4 yakni Kota dan Komunitas Berkelanjutan, khususnya dalam aktivitas cagar budaya.
“Ini tahun kedua FIB mendapat amanah. Tahun 2024, kami mengerjakan Arsip Pembangunan Tugu Pahlawan, alhamdulillah juga berhasil ditetapkan. Tahun ini, Arsip Makam Eropa Peneleh. Semoga terus berkelanjutan, dan bahkan sampai ke tahap Memory of the World UNESCO,” tukasnya.(*)
Penulis: Prof Dr Purnawan Basundoro SS MHum
Editor: Yulia Rohmawati





