UNAIR NEWS – Kolaborasi fakultas (FTMM, FKG, FISIP, FKH, FV dan Pascasarjana) Universitas Airlangga adakan Webinar Obrolan Sabtu Pagi dengan topik “AI dalam Kesehatan” pada (30/9/2023). Webinar kali ini terlaksana secara daring dengan menghadirkan empat pembicara dari bidang dan keahlian nya masing-masing.
Dalam Webinar kali ini, Sylmina Dalily Alkaff M Sc Peneliti dari Prodi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan FTMM UNAIR sebagai pembicara keempat. Sylmina Dalily A. memaparkan topik AI (kecerdasan buatan, red) yang berfokus pada riset biomedik pada acara kali ini.
Sylmina Dalily A. membuka pemaparan materi dengan menyebutkan definisi biomedik. “Kalau guyonan-nya itu, biomedik anak teknik atau pengen jadi dokter tapi tidak kesampaian,” katanya sambil mencairkan suasana.
Dari pemaparannya, biomedik itu merupakan ilmu teknik dalam pengaplikasiannya pada alat-alat bidang kesehatan.
Awal Mula AI
Selanjutnya, Sylmina menjelaskan bagaimana awal mula munculnya AI atau kecerdasan buatan. Dari pemaparannya, AI berasal dari knowledge-based system. Hal yang menarik adalah yang AI lakukan sekarang sudah dilakukan oleh para dokter saat ini.
“Sebenernya kita (manusia, -red) ini tuh AI. The truth AI tuh kita,” ungkapnya.
Sylmina memaparkan knowledge based system yang menjadi awal mula adanya AI. Ia menjelaskan bahwa dokter sudah melakukan knowledge based system. Pertama adanya input seperti dengan mendeteksi gejala penyakit pada klien, lalu melakukan analisis seperti adanya tes urin, tes darah.
“Kemudian luarannya adalah diagnosa dokter terhadap penyakit atau apa yang pasien alami dan membuat keputusan,” paparnya.
Sylmina mencontohkan, bahwa manusia selalu memperbarui pengetahuan saat berhadapan dengan input (fakta, red) baru untuk bisa mengatasi dan bersikap yang tepat atau menghasilkan output (keputusan, red). Hal ini selalu berulang, dan inilah artificial intelligence.
Menurut Sylmina, kecerdasan buatan atau AI tidak bisa menggantikan peran manusia. “Kita yang ngasih input, kita yang ngajarin AI. Kayak dosen ngajarin mahasiswa. Tinggal gimana bergantung pada kita. Membuat AI sebagai the best for humanity,” jelasnya.
AI dalam Medical Imaging
Pada penjelasannya, Slymina juga memaparkan fungsi kecerdasan buatan atau AI dalam teknik biomedik dan kesehatan. Menurutnya, AI berfungsi sebagai pusat data para dokter dan praktisi agar memudahkan dalam mendiagnosa sehingga bisa lebih tepat dan akurat dalam memberikan penanganan.
Dari penjelasannya, AI dalam teknik biomedik bisa berfungsi untuk medical imaging, drug delivery and production, prosthetics dan riset genetik. Fungsi AI dalam medical imaging menurut Sylmina, mengubah dari yang awalnya bergantung pada keahlian personal tenaga medis menjadi objektif sains. Sylmina mencontohkan pada bidang radiologi.
“Radiologi yang sebelumnya bergantung pada keahlian radiolog saat membaca gambar. Di medical imaging merubah dari yang awalnya keahlian subjektif menjadi objektif sains dengan bantuan AI,” katanya.
Selain itu, Sylmina menyebutkan AI juga berfungsi meningkatkan kualitas gambar pada MRI dengan memperjelas resolusi gambar MRI. AI juga membantu dalam mendeteksi resiko kanker dari alat scan. Pada akhir pemaparannya, Sylmina menuturkan tantangan mengembangkan AI dalam bidang kesehatan. Menurutnya, butuh adanya regulasi terkait sharing data pada institusi kesehatan.
“Karena kita berhubungan dengan datanya orang, data pasien. Nah etik atau tidak kita menggunakan data tanpa izin. Berarti harus ada regulasi etika sebelum AI diimplementasikan ke publik,” ungkapnya.
Penulis: Tsaqifa Farhana Walidaini
Editor: Nuri Hermawan





