Universitas Airlangga Official Website

Kolaborasi KID UNAIR dan UiTM Lestarikan Alam dan Budaya Bersama

Mahasiswa UiTM dan KID UNAIR saat melakukan penanaman mangrove bersama (Foto: Dok. KID Vokasi UNAIR)
Mahasiswa UiTM dan KID UNAIR saat melakukan penanaman mangrove bersama (Foto: Dok. KID Vokasi UNAIR)

UNAIR NEWS – Program studi Kearsipan dan Informasi Digital (KID) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan kegiatan bertaraf internasional dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Kegiatan tersebut bertajuk Internasional Community Service (ICS) 2.0. Tema yang diusung adalah Serumpun Sebalai: Crossing Culture, Planting Future. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan dan mempererat hubungan KID Unair dan UiTM. ICS 2.0 berlangsung pada Sabtu (3/5/2025) hingga Minggu (4/5/2025).

Pada hari pertama sepuluh mahasiswa UiTM dan KID UNAIR melakukan penanaman mangrove di Wisata Mangrove, Wonorejo. Wilayah ini merupakan area konservasi mangrove terbesar di Indonesia. Kegiatan penanaman dipandu tour guide Wisata Mangrove yaitu David. 

Mangrove memegang peranan yang sangat krusial sebagai penjaga kualitas udara dan air di lingkungan. “Mangrove memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menyerap karbon dioksida. Yaitu salah satu gas rumah kaca utama yang berkontribusi pada perubahan iklim. Dan sebagai gantinya, mereka menghasilkan oksigen yang esensial bagi kehidupan seluruh makhluk hidup di bumi,” ucap David.

Kemudian, David melanjutkan untuk memperjelas perbedaan antara dua istilah yang seringkali tertukar. Istilah bakau secara spesifik merujuk pada jenis tumbuhan atau pohon dari genus Rhizophora. Contohnya adalah bakau minyak dan bakau kurap.

Sementara itu, istilah mangrove memiliki makna yang lebih luas yang merujuk pada ekosistem hutan yang tumbuh di wilayah pasang surut air laut. Termasuk jenis tumbuhan lain yang beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang unik ini, seperti api-api, tanjang, dan nipah.

Penanaman mangrove ini menjadi simbol akar kolaborasi lintas negara yang berdampak pada ekologis. Selain itu, juga merepresentasikan semangat dalam membangun kontribusi bagi masyarakat dan lingkungan,” terang Lidya selaku ketua pelaksana.

Pertukaran mahasiswa UiTM ke KID Vokasi UNAIR (Foto: Dok. KID Vokasi UNAIR)
Pertukaran mahasiswa UiTM ke KID Vokasi UNAIR (Foto: Dok. KID Vokasi UNAIR)

Hari kedua dilakukan berbagai kegiatan mulai dari tampilan tari tradisional, melakukan permainan tradisional, dan penyampaian materi tentang kebudayaan Indonesia. Mulai dari makanan, rumah adat, hingga aksara. Begitupun Malaysia, juga menyampaikan kebudayaan khas Malaysia terutama terkait baju kurung. 

Mira menyampaikan baju kurung digunakan untuk upacara adat di kalangan perempuan di dalam Kerajaan Melayu. Baju kurung dipakai dengan kain songket sebagai sarung, serta dihiasi dengan perhiasan emas, tas kecil, dan kipas. Karena mayoritas masyarakat Melayu beragama Islam, banyak perempuan yang mengenakan baju kurung juga mengenakan jilbab sebagai pelengkapnya.

“Baju kurung mengandung filosofi tinggi yang selama berabad-abad mampu mengokohkan budaya Melayu dan mampu mengangkat harkat martabat masyarakat Melayu. Baju kurung bermakna sebagai pagar diri, baju ini memagari pemakainya dari berbuat yang dipantang larangan oleh ajaran agama, malu melanggar ajaran agama,” ungkap Mira.

Penulis: Arifatun Nazilah

Editor: Yulia Rohmawati