Ny. M, 74 tahun, dari Pulau Lirang, sebuah pulau di Kabupaten Maluku Barat Daya yang merupakan pulau perbatasan dengan Timor Leste, menderita tumor yang menutupi seluruh lobang hidungnya selama sembilan tahun. Kalau bernapas, ia harus membuka mulutnya agar udara bisa keluar masuk dari mulutnya. Ia sudah mencari upaya penyembuhan dari rumah sakit-rumah sakit sekitar pulau itu. Jawaban terakhir, harus dirujuk ke Ujung Pandang. Dan lagi-lagi, keluarganya tidak punya uang. Akhirnya, penyakitnya baru tertangani ketika Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) berkunjung ke Pulau Lirang tahun 2018. Tim dokter melakukan eksisi luas dan rekonstruksi forehead flap serta membuat lubang hidung buatan. Betapa senangnya pasien dan keluarganya karena pasien tidak perlu dirujuk ke kota besar. Operasi bisa diselesaikan di pulau mereka.
Tn. Usm, 67 tahun dari Pulau Karamian sebuah pulau kecil di Laut Jawa, harus menahan nyeri yang amat sangat selama tiga tahun karena pembusukan tungkai bawah hingga tulang tungkai bawahnya tampak (bone exposed). Kondisinya baru tertangani ketika RSKKA datang untuk pelayanan di Pulau Masalembu tahun 2022. Tim dokter hanya melakukan amputasi di atas lutut (above the knee amputation), operasi yang sudah menjadi semacam operasi sego jangan (nasi dan sayur) atau operasi sehari-hari di rumah sakit. Pasca operasi, Tn. Usm. ditanya, “Mengapa tidak ke rumah sakit di Jawa, Pak?” Dengan suara lirih dan nyaris tak terdengar, Tn. Usm menjawab, “Tidak punya uang, Pak Dokter.”
Masih banyak kisah pilu orang-orang pulau yang harus wafat di pulau mereka karena tidak punya uang untuk biaya perjalanan. Atau kadang mereka punya uang, tetapi karena gelombang tinggi mereka tidak berani melaut mengingat nyawa adalah taruhannya. Suara mereka seperti Tn. Usm, memang lirih dan nyaris tak terdengar, membuat tidak banyak orang yang bisa mendengar rintihan mereka.
Tetapi banyak orang, lembaga swadaya masyarakat sudah melakukan banyak hal yang luar biasa bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. Namun karena dilakukan secara soliter, dampaknya hanya terasa di sekitar daerah terpencil tertentu saja. Juga karena karena sumber daya yang tidak memadai, banyak di antara mereka yang harus melakukan terminasi.
Untuk memperkuat dampak pelayanan dan menjaga sustainability pelayanan kesehatan di daerah terpencil, kita perlu melirik ke negara tetangga sebelah timur kita, Australia. Pada tahun 2007, sekelompok dokter dan akademisi yang memiliki pengalaman melakukan pelayanan kesehatan di daerah terpencil di Australia, berkumpul dan mendirikan kolegium ilmu kedokteran daerah terpencil. Dalam konteks Australia sebagai negara kontinental, The Australian College of Rural and Remote Medicine, demikian nama resmi kolegiumnya, merumuskan ada delapan aspek penting tentang pelayanan kesehatan daerah terpencil yang harus menjadi perhatian, antara lain: a) pendekatan yang dilakukan lebih bersifat sebagai pekerjaan (employment) dan bukan sebagai kegiatan bakti sosial, b) aspek keterisolasian dan pemanfaatan teknologi komunikasi dalam pelayanan kesehatan (telehealth), c) diperlukan peningkatan ketajaman klinis, d) pelayanan ekstra (extended practice), e) bekerja di daerah dengan keragaman budaya, f) pelayanan yang bersifat multidisiplin dan g) penekanan pada kesehatan masyarakat dan h) pentingnya keamanan personal. (Giddings dkk., 2008)
Bagaiamana dengan Indonesia? Indonesia adalah negara maritim. Ada perbedaan pendekatan dibandingkan dengan Australia terutama dalam hal penjangkauan wilayah. Dokter di Australia menjangkaunya dengan pendekatan penerbangan (flying doctor). Di Indonesia, lebih banyak pendekatan dengan mengirimkan rumah sakit kapal ke daerah terpencil seperti yang dilakukan RSKKA.
Setelah menjalankan kegiatan pelayanan di pulau-pulau terpencil di Indonesia selama delapan tahun, RSKKA dengan rendah hati mengusulkan delapan poin ilmu kedokteran daerah terpencil yang sesuai karakteristik negara maritim sebagai berikut:
(1) Merupakan jawaban yang penuh empati dan belas kasih untuk melakukan pelayanan kesehatan di daerah terpencil; (2) Memiliki kemampuan menjangkau daerah yang sulit dijangkau; (3) Memiliki kemampuan beradaptasi, bertahan hidup dan bekerja di daerah sulit dengan budaya, situasi dan kondisi yang baru dan berbeda dengan tetap mengedepankan keamanan diri; (4) Memiliki kemampuan berkomunikasi dan membangun kolaborasi dalam rangka memperkuat pembangunan sistem pelayanan kesehatan setempat; (5) Memiliki ketajaman klinis dan kemampuan tatalaksana klinis yang kreatif di tengah keterbatasan fasilitas; (6) Mengoptimalkan aplikasi ilmu kesehatan masyarakat di daerah terpencil, misalnya pengembangan obsteri sosial (bidang ilmu kebidanan dan kandungan), optalmologi komunitas (bidang ilmu penyakit mata), dan lain-lain; (7) Memiliki kemampuan menghadirkan perubahan multidisiplin yang berbasis riset dan inovasi; (8) Memiliki kemampuan keterampilan visual dan jurnalistik untuk memperkuat jaringan kerja sama (networking) pelayanan kesehatan yang terkoneksi.
Delapan fitur ini diharapkan akan bisa menjadi modal awal bagi para sejawat dokter, akademisi, lembaga-lembaga dan pegiat-pegiat pelayanan kesehatan di daerah terpencil untuk memulai mendirikan kolegium ilmu kedokteran daerah terpencil di Indonesia. Apa yang bisa diharapkan dari Kolegium Ilmu Kedokteran Daerah Terpencil ini? Banyak, antara lain:
(1) Menjadi wahana untuk mendukung dokter dan tenaga kesehatan yang bekerja di daerah terpencil. Seperti supporter Liverpool FC, untuk mendukung pemainnya bertarung terutama saat tandang, mereka pekikkan, “You will never walk alone!” Ini adalah salah satu alasan mengapa RSKKA berlayar ke pulau-pulau terpencil, membuat dokter dan tenaga kesehatan tidak merasa sendirian di dalam kesulitan!
(2) Menjadi wahana untuk saling belajar dan bertukar pengalaman antar sesama dokter dalam mengatasi masalah kesehatan di di daerah terpencil
(3) Menjadi mitra fakultas-fakultas kedokteran untuk membekali para mahasiswa kedokteran dengan ilmu kedokteran daerah terpencil selama masa pendidikannya sebelum bekerja di daerah terpencil. Mereka harus disiapkan mampu melakukan pelayanan kesehatan di tengah keterbatasan fasilitas dan bisa menghadirkan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di daerah terpencil
(4) Menjadi mitra proaktif pemerintah yang dalam tiga tahun terakhir ini memberi perhatian dan dukungan yang luar biasa bagi peningkatan pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Dukungan itu antara lain terbitnya Permenkes nomor 33 tahun 2023 tentang Rumah Sakit Kapal, membuka Pendidikan Dokter Spesialis Berbasis Rumah Sakit untuk mempercepat ketersediaan dokter spesialis yang terpanggil untuk bekerja di daerah terpencil, pemberian insentif yang cukup menarik bagi dokter yang bertugas di daerah terpencil, dan lain-lain.
Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau (sekitar enam ribu pulau di antaranya berpenghuni), tersebar di hamparan lautan seluas 7,81 juta kilometer persegi. Oleh karenanya banyak pulau di Indonesia secara geografis menjadi daerah terpencil karena terpisahkan oleh lautan dan sulit diakses. Bahkan, pada musim gelombang tinggi, pulau-pulau tertentu tidak mungkin bisa ditembus. Namun, atas nama kemanusiaan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kita tidak boleh menyerah kalah!
Mari kita mendirikan Kolegium Ilmu Kedokteran Daerah Terpencil Indonesia untuk pembangunan kesehatan daerah terpencil yang lebih baik. Kita butuh itu.
Penulis: Agus Harianto (Direktur RS Kapal Ksatria Airlangga)





