UNAIRNEWS – Dalam dunia digital yang menuntut kreativitas, keunikan dan kecepatan, UNAIR menegaskan komitmennya menjaga citra institusi lewat standarisasi identitas visual. Komitmen ini ditegaskan melalui Workshop Sosialisasi Cyber Security & Branding Guideline Media Sosial UNAIR pada Kamis (3/7/2025), di Aula Majapahit, ASEEC Tower Kampus Dharmawangsa-B.
Kegiatan yang menghadirkan puluhan peserta dari berbagai unit kerja ini menghadirkan dua narasumber. Keduanya adalah CEO Jagamaya, Tri Febrianto dan Koordinator Media Branding PKIP UNAIR Gesang Manggala Nugraha Putra SS SA MHum.
Selaraskan Pedoman Komunikasi
Ketua PKIP UNAIR Martha Kurnia Kusumawardani dr Sp KFR mengungkap workshop ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman praktis tentang praktik cyber security dan menyelaraskan pedoman komunikasi di media sosial seperti peletakan logo. “Konten yang di-upload di media sosial dari institusi UNAIR bisa selaras. Dan semoga dari aktivitas ini, kami dapat berbagi pengalaman di fakultas maupun di unitnya masing-masing,” jelasnya.
Koordinator Media Branding PKIP UNAIR Gesang Manggala Nugraha Putra SS SA MHum memaparkan identitas visual UNAIR bertumpu pada tiga landasan utama. Antara lain Statuta Universitas; Branding Guidelines; dan Logo Guidelines. Menurut Gesang, ketiganya menjadi fondasi penting dalam membangun komunikasi visual kampus yang kuat dan koheren.

Gesang menekankan perbedaan fundamental antara lambang dan logo UNAIR. Lambang, yang berbentuk lingkaran dengan simbol Garuda Muka membawa guci merah, hanya untuk keperluan internal/formal. Sementara, logo signature yang mengalami penyempurnaan pada 2025 untuk keperluan eksternal seperti publikasi, media sosial, dan merchandise resmi. Salah satu pembaruan utama adalah pencantuman tahun berdiri UNAIR di bagian bawah logo, serta penyempurnaan tipografi agar lebih modern dan fleksibel.
Identitas Visual sebagai Bahasa Institusi
Tak hanya berhenti di situ, UNAIR memperkenalkan key graphic berbentuk pita, hasil penggabungan huruf “U” dan “A”, yang kini menjadi motif resmi UNAIR. Visual ini tak hanya estetik, tapi menyiratkan filosofi keberlanjutan dan kolaborasi.
Gesang menjelaskan, sebagai world class university, UNAIR perlu menjaga penyampaian visual yang konsisten dan mudah dikenali di seluruh platform. Karena itu, setiap unit diminta mengikuti pedoman desain. Seperti penggunaan moodboard visual, pemilihan white balance (cold atau warm), serta pemakaian tipografi yang sesuai dengan karakter audiens. “Untuk segmen Gen Z, misalnya, Humas UNAIR memilih gaya bold, tegas, dan padat informasi agar cepat tertangkap dalam waktu singkat,” paparnya.
Standarisasi media sosial juga mencakup penggunaan ukuran visual yang tepat, penyematan logo header (Kemdiktristek, UNAIR, dan Kampus Berdampak), hingga penyusunan caption dan hook yang mengikuti ritme komunikasi digital masa kini. Resolusi video, tone warna, serta pendekatan copywriting juga turut diatur agar konten dari seluruh unit tampil seragam namun dinamis. “Identitas visual adalah cerminan nilai. Kalau tidak satu suara, pesan yang kita sampaikan bisa bias,” pungkasnya.
Penulis: Sintya Alfafa
Editor: Yulia Rohmawati





