Universitas Airlangga Official Website

Kreatif dan Taat Panduan, Kunci Sukses Menuju PKM

Pulung Siswantara S KM M Kes memberikan materi dalam kegiatan PKM On Training 1. (Foto: Departemen Rispres BEM FKM UNAIR)
Pulung Siswantara S KM M Kes memberikan materi dalam kegiatan PKM On Training 1. (Foto: Departemen Rispres BEM FKM UNAIR)

UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (BEM FKM UNAIR) menggelar kegiatan PKM On Training 1 pada Selasa (22/4/2025). Kegiatan PKM On Training 1 bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa dalam mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diharapkan dapat melaju hingga ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Pada kesempatan kali ini, PKM On Training 1 menggandeng Pulung Siswantara S KM M Kes sebagai narasumber.

Pulung mengatakan bahwa kreativitas menjadi komponen utama dalam penilaian PKM. Ia mengingatkan bahwa jika hanya ingin berjualan maka sebaiknya mahasiswa mengikuti P2MW bukan PKM. “Kalaupun jualan harus ada kreativitasnya,” tegasnya.

“Kalau kamu mau jualan, simpan idemu dan jual di P2MW. Tapi kalau yang kamu jual sesuatu yang menarik, ada unsur kreativitasnya kamu ada disini (PKM),” ucapnya.

Lebih lanjut, ia memberikan tips untuk menemukan kreativitas dengan cara mengamati kondisi di sekitar. “Simpan semua hp kamu, simpan semua laptop kamu, berhenti main sosmed. Coba lihat sekelilingmu, di situ kreativitas akan muncul,” ujarnya.

Menurutnya, sesuatu yang dilihat di hp ataupun sosmed telah dipengaruhi oleh internet. “Hp mu itu baca omonganmu sehingga kreativitasmu ya disitu situ aja,” tegasnya. Ia menyarankan mahasiswa untuk mendengarkan keluhan-keluhan yang ada di masyarakat. 

“Dari situ nanti kita akan tahu bahwa ada kreativitas baru yang bisa kita lakukan,” sambungnya.

Pulung mengingatkan komponen penilaian lain yang tidak boleh disepelekan adalah administrasi. Administrasi ini termasuk ketentuan penulisan yang harus sesuai dengan buku panduan PKM.

“Ingat bahwa yang ikut PKM itu sepuluh ribu. Satu orang review PKM itu dapat dua ribu lebih dan itu waktu koreksinya cuma satu bulan. Jadi, yang tidak sesuai dengan administrasi itu dibuang pertama,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia memperingatkan untuk tidak mengacu pada penulisan proposal tahun sebelumnya. Ia menerangkan bahwa lebih baik sesuaikan dengan template PKM. “Sesuaikan dengan template. Baca buku panduan dan jangan mengacu dari kakak kelas. Ingat buku panduan berubah terus.”

Pulung juga menjelaskan bahwa banyak kasus peserta PKM yang tidak lolos bukan karena idenya kurang. Akan tetapi, karena proposalnya tidak sesuai dengan template di buku panduan PKM. 

“Dia dibuang bukan karena idenya jelek, tapi karena administrasinya salah,” ujarnya.

Penulis: Septy Dwi Bahari Putri

Editor: Khefti Al Mawalia