Universitas Airlangga Official Website

Kuliah Tamu FIB Ajak Mahasiswa Menilik Relasi Jepang dan Cina dalam Perspektif Sastra

Seorang laki-laki berkebangsaan Jepang berdiri mengenakan jas hitam dan mic, ia adalah Prof Nishihara Daisuke saat memaparkan materi kuliah tamu
Prof Nishihara Daisuke saat memaparkan materi kuliah tamu (Foto: Dok. Prodi Bahasa dan Sastra Jepang)

UNAIR NEWS – Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) sukses menggelar kuliah tamu bertajuk Japan and China: the History of Japanese Literature. Acara yang mengundang Prof Nishihara Daisuke dari Tokyo University of Foreign Studies sebagai narasumber utama tersebut berlangsung pada Selasa (11/11/2025) di Ruang Majapahit, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.

Turut hadir memberikan sambutan, Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Jepang FIB UNAIR, Nunuk Endah Sri Mulyani SS MA PhD. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kuliah tamu yang memberikan ruang untuk mahasiswa memahami sastra Jepang dalam konteks sejarah hubungan Jepang dan Cina, langsung dari pakarnya.

Seorang perempuan berjilbab berdiri di podium, ia adalah Nunuk Endah, Kaprodi Bahasa dan Sastra Jepang
Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Jepang FIB UNAIR, Nunuk Endah Sri Mulyani SS MA PhD saat menyampaikan sambutan daalam kuliah tamu membahas relasi Jepang dan Cina (Foto: Dok. Prodi Bahasa dan Sastra Jepang)

“Kesempatan seperti ini sangat berharga untuk mahasiswa. Kita bisa belajar langsung dari ahlinya. Saya berharap sesi hari ini membuka lebih banyak minat baru dalam kajian sastra Jepang, terutama bagi yang merasa teks klasik itu sulit,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Prof Nishihara mencoba menarik kembali masa ketika Jepang pertama kali mengenal budaya tulis melalui Cina. Pada periode awal tersebut, Jepang banyak mengadopsi sistem penulisan dari Cina, sehingga wajar apabila karya-karya tertuanya masih sangat kental dengan nuansa budaya Cina. Menurutnya, fase ini menjadi titik awal ketika Jepang mulai belajar membangun dasar literasinya sendiri dengan bertumpu pada tradisi Cina. Mengingat, pada masa itu tradisi dianggap matang dan sempurna.

Namun, perubahan perlahan muncul ketika Jepang menciptakan hiragana (salah satu aksara Jepang). Prof Nishihara menilai, kehadiran huruf tersebut menjadi awalan baru untuk mengekspresikan bahasa mereka dengan lebih leluasa. “Pada periode awal, Jepang banyak belajar dari Cina. Namun ketika hiragana muncul, Jepang mulai menemukan bentuk ekspresi sastranya sendiri,” jelasnya.

Dari situlah, arah hubungan sastra Jepang dan Cina perlahan berubah. Kendati Jepang masih memandang Cina sebagai rujukan budaya, tetapi karya-karya mereka mulai menunjukkan karakternya sendiri. “Berbagai tema dan gaya penulisan yang sebelumnya sangat dipengaruhi tradisi Cina, kemudian bergeser seiring berkembangnya kehidupan sosial dan budaya di Jepang,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Prof Nishihara juga mengungkapkan bagaimana dinamika politik turut memengaruhi cara Jepang menggambarkan Cina dalam karya sastra. Ada masa ketika Cina dipandang sebagai pusat pengetahuan, tetapi di masa lain Jepang memilih mengambil jarak dan memperkuat dentitasnya. Pergeseran ini terekam jelas dalam berbagai karya sastra, terutama dalam cara penulis memposisikan Cina dari kacamata masyarakat Jepang.

Pada akhir, Prof Nishihara mencontohkan bahwa beberapa karya menampilkan Cina sebagai negara besar yang dikagumi. Sementara karya lainnya justru menunjukkan pandangan yang sepenuhnya berlawanan. “Kalau kita membaca karya dari periode-periode berbeda, kita bisa melihat bagaimana jarak emosional itu berubah. Ada masa ketika Cina terasa dekat, lalu di masa tertentu menjadi sesuatu yang ingin dijauhi. Sastra merekam perubahan itu dengan caranya sendiri,” pungkasnya.

Sebagai penutup, dosen Prodi Bahasa dan Sastra Jepang FIB UNAIR sekaligus moderator pada acara ini Syahrur Marta Dwisusilo SS MA PhD menekankan dalam kesimpulannya. Bahwa dengan ketergantungan atau keterhubungan budaya antara kedua bangsa tersebut dapat menjadi jembatan penting untuk menjaga hubungan tetap damai meskipun kadang terdapat dinamika perbedaan politik.

Penulis: Firtha Ayu Rachmasari

Editor: Yulia Rohmawati