Universitas Airlangga Official Website

Kuliah Tamu FIB UNAIR Hadirkan Profesor dari Hong Kong

Paparan materi oleh Prof Olli Tapio Leino dari City University of Hong Kong pada kuliah tamu Computer Games, Phenomenology, and Existentialism, Selasa (29/04/2025). (Foto: Dok Penulis)

UNAIR NEWS – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kuliah tamu bertajuk Computer Games, Phenomenology, and Existentialism pada Selasa (29/04/2025) di Ruang Chairil Anwar, FIB UNAIR. Acara ini menghadirkan Prof Olli Tapio Leino dari City University of Hong Kong sebagai pembicara utama.

Dalam paparannya, Prof Leino membagikan perjalanan akademiknya yang berawal dari ketertarikan pada studi budaya dan media baru sejak 2007. Ia menuturkan bahwa pengalamannya di University of Lapland memunculkan kesadaran bahwa saat itu belum banyak pihak yang memahami game komputer sebagai bidang akademik yang serius. 

Hal ini membawanya untuk melanjutkan studi di Copenhagen dan terlibat dalam proyek game bersama perusahaan Ubisoft, yang mengembangkan Peter Jackson’s King Kong. “Saat itu, ada diskusi besar, kenapa penonton film bisa menangis tapi pemain game tidak. Padahal, pemain juga merasakan emosi. Ini menginspirasi saya untuk menulis disertasi PhD tentang emosi dalam game,” jelasnya.

Prof Leino menekankan bahwa emosi dalam game tidak semata persoalan psikologis, melainkan juga pengalaman kemanusiaan yang memiliki kedalaman filosofis. Ia kemudian mengaitkan game komputer dengan pemikiran Jean-Paul Sartre dan filsafat eksistensial lainnya. “Permainan bukan hanya objek yang kita lihat, tapi juga mode pengalaman yang kita alami secara langsung,” tambahnya.

Menurut Prof Leino, keunikan game komputer terletak pada sifatnya yang interaktif dan tidak seragam antar pemain. Berbeda dengan buku yang dibaca secara linear dan serupa, pengalaman bermain game sangat individual dan bersifat prosedural. “Setiap orang membuat perjalanannya sendiri dalam game. Ini menciptakan tantangan dalam interpretasi karena pemain juga merupakan bagian dari teks permainan itu sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyinggung tentang konsep kepercayaan pemain terhadap dunia game yang terbentuk melalui antarmuka (interface), seperti dalam Half-Life 2 saat karakter utama mengenakan pakaian H.E.V. Suit. “Antarmuka tidak hanya menjadi alat visual, tetapi juga berfungsi naratif yang memperkuat keterlibatan emosional pemain,” terang Prof Leino.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa fenomenologi memberikan kerangka untuk memahami bagaimana pemain mengalami game, baik sebagai objek luar maupun sebagai pengalaman personal yang mendalam. Ia menyebut konsep ini sebagai harmoni eksistensial, di mana game menjadi medium yang memadukan persepsi, interaksi, dan makna.

Prof Leino juga menggarisbawahi bahwa kebebasan dan ketahanan dalam game mencerminkan pertanyaan filosofis yang lebih luas, sebagaimana disinggung oleh Sartre dalam konsep penjara kebebasan. “Game seperti Second Life menjanjikan kebebasan total, tetapi apakah itu benar-benar kebebasan. Inilah yang menjadi refleksi penting dalam filsafat game,” pungkasnya.

Penulis: Ameyliarti Bunga Lestari

Editor: Edwin Fatahuddin