Universitas Airlangga Official Website

Kuliah Tamu PPDH FIKKIA, Bahas Prosedur Nekropsi Penyu dan Cetacea Kecil

Demonstrasi Penyelamatan Lumba-lumba Terdampar (Sumber: Istimewa)
Demonstrasi Penyelamatan Lumba-lumba Terdampar (Sumber: Istimewa)

UNAIR NEWS – Kehidupan satwa laut memegang peran penting dalam rantai makanan dalam ekologis. Biodiversitas fauna laut seperti penyu dan cetacea kini mendapatkan ancaman. Terlebih lagi, dengan terus meningkatnya aktivitas manusia, pemanasan global, hingga penyebaran penyakit infeksius yang berakibat kematian. Nekropsi dapat menguak penyebab dari kematian hewan tersebut. Oleh karena itu, Program Studi Profesi Dokter Hewan (PPDH) Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan kuliah tamu tentang penyelamatan dan nekropsi hewan laut. Kuliah Tamu berlangsung pada Selasa (29/4/2025) hingga Rabu (30/4/2025) di Ruang Sidang Kampus Giri FIKKIA.

Nekropsi Penyu

Pemateri drh Deny Rahmadani MSi mengatakan proses identifikasi spesies harus dilakukan terlebih dahulu sebelum proses nekropsi. Cara identifikasi paling efisien dengan melihat jumlah dan susunan sisik kosta maupun sisik prefrontal. Penyu tempayan (Caretta caretta) memiliki 5 sisik lateral dan 2 pasang sisik prefrontal. Penyu hijau (Chelonia mydas) terdapat 4 sisik lateral dan sepasang sisik prefrontal. Sedangkan penyu belimbing (Dermochelys coriacea) tidak memiliki sisik namun terdapat 5 tonjolan dorsal. Penyu memiliki rangka khusus yang melindungi bagian abdomen Pengangkatan plastron dan skapula organ dalam. “Status nutrisi terlihat dari timbunan lemak ventral setelah pengangkatan plastron.” katanya.

drh Deny Rahmadani MSi Berikan Pemaparan Tata Cara Nekropsi Penyu dan Cetacea Kecil (Sumber: Istimewa)
Kode Karkas Penyu

Penentuan karkas untuk nekropsi dapat menggunakan penyu yang lebih segar dengan batas maksimal 48 jam setelah kematian. Nekropsi tanpa mempedulikan kualitas jaringan dapat terjadi untuk mengambil data forensik. Kode nol menandakan penyu hidup atau baru saja mati dibawah dua jam. Kode satu menandakan karkas segar (< 24 jam pasca mati). Penampilan normal dengan sedikit kerusakan, bau segar, mata sedikit kering, mata jernih, dan karkas tidak membengkak. Kode dua untuk bangkai berkondisi dekomposisi sedang. Terdapat pembengkakan dengan bau khas membengkak dengan bau khas. Kepala utuh atau kehilangan sebagian kulit, Mata terlihat cekung, karapas dan plastron utuh. 

Kode tiga untuk dekomposisi lanjut. Bangkai telah rusak dengan bau yang kuat. Kerangka yang sebagian terbuka, serta karapas dan plastron kehilangan sebagian atau seluruh kulit. Kode empat Bangkai yang telah mendapatkan pengawetan atau bangkai dengan bentuk tidak lengkap.

“Pada bangkai segar berkode nol dan satu. Mata dan leher yang cekung merupakan tanda hewan mengalami dehidrasi dan daerah ketiak yang lembek dapat dianggap sebagai cachexia otot,” tuturnya.

Nekropsi Cetacea Kecil

Deny menyebut prosedur awal dalam nekropsi cetacea kecil maupun penyu berupa pemeriksaan bagian eksternal. Pengkodean mulai dari angka satu hingga lima. Kode satu memberikan gambaran kondisi baru terdampar. Kode dua menandakan karkas masih segar, kematian kurang dari 24 jam, bau tidak menyengat, dan tanpa pembengkakan. Kemudian, Kode tiga telah terjadi pembengkakan dan mulai menimbulkan bau. Kode empat. Kode lima menunjukkan kondisi bangkai telah mengering.

“Semakin besar kode, semakin turun kualitas sampel darah maupun organ,” ungkapnya. 

Berlanjut membuka rongga abdomen dan thorax. Serta pemeriksaan leher kepala meliputi gigi, ekstraksi bagian telinga, dan otak. Pasca nekropsi lakukan penguburan sisa karkas dan lakukan desinfeksi peralatan yang telah digunakan. Periksa dan pastikan catat semua temuan dan lakukan pengelolaan sampel.

Penulis: Azhar Burhanuddin

Editor: Ragil Kukuh Imanto