UNAIR NEWS – Bagi mahasiwa, kemampuan menulis adalah keterampilan yang wajib dikuasai. Faktanya, tak sedikit di antara mereka yang belum mampu menulis dengan baik. Selain faktor internal seperti malas atau tidak adanya ketertarikan di bidang tulis-menulis, lingkungan eksternal semacam habit turut menjadi penyebabnya.
Merespons fenomena tersebut, program studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) melalui pengampu mata kuliah bahasa Indonesia jurnalistik (BIJ) menggelar kuliah tamu pada Rabu siang (22/11) di Ruang Siti Parwati. Hadir sebagai pembicara Agus Muttaqin, salah seorang redaktur di Jawa Pos, dan Frido Sri Adawina, salah seorang editor bahasa di Jawa Pos.
Dalam kesempatan itu, Agus memberikan paparan tentang menulis opini di media massa, terutama Jawa Pos. Berbagai tips, karakter, dan jenis opini yang biasa dimuat dalam surat kabar disampaikan sekaligus ditunjukkan kepada peserta.
Menurut Agus, kebanyakan masalah yang dihadapi pemula adalah tidak adanya ide atau gagasan. Padahal, setelah punya ide, sering pula mereka bingung menuangkannya ke dalam bentuk tulisan.
”Memang, untuk bisa menulis dibutuhkan proses. Salah satunya dengan rajin dan sering membaca,” tuturnya.
Orang menulis hampir mirip dengan bercerita. Namun, untuk tulisan, karakternya sangat berbeda. Intinya, agar bagus, lanjut Agus, tulisan itu mesti disampaikan dengan runtut, terstruktur, serta ilmiah, terutama untuk kalangan akademik.
Agus menambahkan, yang terpenting, untuk menulis opini di media massa, adalah gaya bahasanya. Yakni, yang mudah dipahami serta komunikatif. Sebab, cakupan opini itu sangat luas serta dibaca berbagai lapisan masyarakat.
”Pertimbangan sebuah opini termuat atau tidak, pihak Jawa Pos juga mempertimbangkan status pendidikan penulis. Terutama dikaitkan dengan tulisannya. Bila sinkron dan bagus, ya tulisannya akan dimuat,” jelasnya.
Sementara itu, Frido menjelaskan karakter berbahasa dalam tulisan di media massa. Peserta juga diajak berlatih mengedit berita dengan mencari kesalahan dalam beberapa teks berita yang dicontohkan. Terlihat mereka tampak kebingungan dan kewalahan menganalisis contoh-contoh tersebut.
”Yang perlu diperhatikan ketika menulis, apa pun itu, adalah struktur kalimatnya. Perjelas fungsi-fungsinya dalam informasi yang ingin disampaikan,” ucapnya. ”Bila ingin bisa menulis, perbanyaklah membaca. Membaca apa pun,” tegas Frido sekaligus menutup sesi penjelasannya dalam kuliah tamu itu. (*)
Penulis: Nabila Rifda
Editor: Feri Fenoria





