Universitas Airlangga Official Website

Kuliah Tamu UNAIR: Finlandia Tunjukkan Diplomasi Nilai di Tengah Ketidakpastian Global

Pekka Kaihilahti memaparkan materi tentang kebijakan luar negeri Finlandia pada acara kuliah tamu di FISIP UNAIR pada Rabu (30/04/2025). (Foto : Istimewa)
Pekka Kaihilahti memaparkan materi tentang kebijakan luar negeri Finlandia pada acara kuliah tamu di FISIP UNAIR pada Rabu (30/04/2025). (Foto : Istimewa)

UNAIR NEWS – Pusat Studi Eropa dan Eurasia Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kuliah tamu pada Rabu (30/04/2025). Acara itu berkolaborasi dengan European Union Centre UNAIR. Kuliah tamu yang berlangsung di Aula Soetandyo, FISIP, Kampus Dharmawangsa-B itu bertema Finnish Foreign Policy and International Order dan turut mengundang Duta Besar Finlandia untuk Indonesia, Pekka Kaihilahti. 

Pekka menyoroti bagaimana respon Finlandia dalam menghadapi ketidakpastian global dan implikasi kebijakan luar negeri antarnegara. Ia merangkum singkat sejarah Finlandia yang juga pernah mengalami dinamika politik. Sama seperti Indonesia, Finlandia sempat mengalami beberapa konflik setelah kemerdekaan, salah satunya adalah konflik dengan Uni Soviet pada saat Perang Dunia Kedua. Kebijakan luar negeri dan keamanan Finlandia didasarkan pada realisme berbasis nilai. 

“Indonesia dikenal dengan politik luar negeri bebas aktif. Kami (Finlandia) juga memiliki prinsip kebijakan luar negeri yang serupa dengan Indonesia,” tambah Pekka. 

Pekka menegaskan bahwa Finlandia berpegang teguh pada nilai-nilai yang dianggap penting. Nilai-nilai tersebut adalah demokrasi, supremasi hukum, hukum internasional dan hak asasi manusia, perdamaian, kesetaraan, dan non-diskriminasi. Di saat yang sama, Finlandia tetap terbuka untuk menjalin dialog dengan negara-negara yang memiliki pandangan dan nilai yang berbeda.

Perubahan mendasar dan jangka panjang telah terjadi dalam tatanan keamanan Finlandia, terutama akibat tindakan Rusia yang tidak menghormati kedaulatan negara lain dan melanggar Piagam PBB dan tatanan keamanan berbasis aturan di Eropa. Selain itu, aktivitas sabotase dan pengaruh hibrida Rusia, termasuk terhadap Finlandia, terus meningkat. 

“Contoh nyata adalah manipulasi arus migrasi di perbatasan timur Finlandia, yang dianggap sebagai bentuk serangan hibrida,” ungkapnya.

Di tengah dinamika global yang terus berubah, Finlandia menyadari berbagai tantangan yang saling berkaitan, mulai dari persaingan geopolitik dalam teknologi, perebutan pengaruh di Eurasia dan Afrika, tekanan terhadap tatanan internasional berbasis aturan, hingga meningkatnya konflik bersenjata dan kebangkitan kekuatan ekonomi baru. Kondisi itu menegaskan pentingnya kerja sama global yang kuat dan pendekatan realistis berbasis nilai dalam merespons tantangan global bersama-sama.

Finlandia memiliki jaringan diplomatik yang luas dan strategis untuk mendukung kepentingan nasionalnya, memperkuat kerja sama internasional, serta melindungi warga negaranya di luar negeri. Jaringan ini mencakup berbagai jenis perwakilan yang memiliki fungsi berbeda-beda, seperti kedutaan besar, perwakilan tetap, konsulat jenderal dan konsulat, serta kantor fungsional dengan staff dari Finlandia. 

Ia juga menyoroti kontribusi Finlandia yang berhasil memediasi konflik berkepanjangan di Aceh, Indonesia. Upaya ini menghasilkan penandatanganan Nota Kesepahaman Helsinki (Helsinki MoU) yang bersejarah, yang menjadi titik balik penting dalam proses perdamaian di wilayah tersebut. Menurutnya, mediasi perdamaian menjadi bagian dari identitas nasionalnya sebagai negara yang menjunjung tinggi dialog, stabilitas, dan solusi damai.

Penulis : Dalliyah Iftitah Arbi 

Editor : Khefti Al Mawalia