UNAIR NEWS – Departemen Ekonomi Universitas Airlangga menggelar kuliah umum pada Kamis (10/8/2023). Berajuk The Effect of Artificial Intelligence (AI) on Economic Growth: A Case Study of Germany, gelaran itu mengundang Prof Dr Ing Hendro Wicaksono dari Constructor University, Jerman.
Pada kuliah tamu secara hybrid tersebut, Prof Hendro memaparkan mengenai perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) di negara Jerman. Ia mengungkapkan, AI memiliki potensi yang sangat besar bagi perekonomian di negara tersebut.
“Di tahun ini, AI rata-rata meningkatkan pertumbuhan tahunan industri di Jerman sebesar 0,69 persen,” terang guru besar bidang teknik industri itu. Di negara tersebut, AI memiliki dampak terbesar di bidang industri manufaktur. AI telah menyumbang nilai tambah bruto pada industri manufaktur di Jerman yakni sebesar €31,8 miliar.
Aplikasi AI
Pengaplikasian teknologi AI salah satunya untuk menjalankan serta memonitor fasilitas produksi. Pengembangan AI untuk sistem asisten digital seperti pada proses perakitan. Bahkan, pendidikan dan pelatihan di lingkungan industri manufaktur Jerman telah mengaplikasikan teknologi ini.
“Penggunaan AI juga untuk menganalisis dan memprediksi anomali dalam proses industri. Juga dipakai untuk memperkirakan permintaan dan perencanaan stok produksi,” ujar Prof Hendro.
Tak hanya terbatas di industri manufaktur saja, saat ini Jerman telah banyak mengaplikasikan AI pada bidang-bidang industri lain seperti keuangan, pajak, hukum, pemasaran, hingga sumber daya manusia. Di bidang keuangan, pajak, dan hukum, sebesar 8 persen perusahaan di Jerman telah menerapkan teknologi AI.
“Ke depannya, angka ini diharapkan meningkat. Diharapkan, sebesar 40 persen perusahaan di Jerman menggunakan AI sehingga lebih banyak perusahaan yang terbantu dengan adanya teknologi ini,” terang Prof Hendro.
Adanya Tantangan
Walaupun demikian, pengaplikasian AI di industri manufaktur diakui Prof Hendro memiliki tantangannya tersendiri. Hal ini utamanya berhubungan dengan lambatnya transfer teknologi dari penyedia teknologi AI kepada pengguna, dalam hal ini produsen manufaktur itu sendiri.
“Perusahaan manufaktur sudah dengan jelas mengungkapkan keinginan untuk bekerja sama dengan penyedia AI di Eropa. Mereka (perusahaan manufaktur, Red) dalam hal ini telah memilih kedaulatan teknologi. Namun, penyedia AI di Jerman tidak menyadari keunggulan kompetisi ini,” ujar Prof Hendro.
Tantangan lain, lanjut Prof Hendro, berhubungan dengan sumber daya manusia yang terdapat di perusahaan-perusahaan. Para karyawan dan manajer yang berpikiran tertutup utamanya sulit menyerap teknologi terkini. “Mereka yang tidak terlalu berpikiran terbuka memiliki ketakutan dan prasangka terhadap teknologi AI ini,” pungkasnya. (*)
Penulis: Agnes Ikandani
Editor: Binti Q. Masruroh





