UNAIR NEWS – “Persahabatan itu mahal” itulah pernyataan tegas dari Direktur Utama PT. Tourindo GKS, H.R. Mohamad Faried, S.H., yang merupakan alumni Universitas Airlangga. Ditemui disela acara pemberangkatan jamaah haji, Faried yang merupakan alumni Fakultas Hukum angatan tahun 1962 berkisah banyak hal mengenai trik sukses dalam menjalankan roda bisnis.
Sebelum berkisah mengenai usaha yang ia rintis, Faried terlebih dahulu memaparkan kisahnya selama menempuh studi di FH UNAIR. Hal unik yang ia alami adalah menempuh studi S1 selama 17 tahun. Bukan tanpa sebab, Faried menjalani studi dalam waktu lama karena memenuhi amanah dari pemerintah.
“Saya masuk Fakultas Hukum tahun 1962 dan lulus 17 tahun kemudian. Awalnya lancar saja. Tapi ketika tahun 1965 ada insiden PKI yang membuat universitas tutup. Pemerintahan juga kacau. Saya salah satu dari mahasiswa UNAIR untuk mengisi pemerintahan di Surabaya. Saya ditempatkan menjadi staf,” terangnya.
Kesibukannya dalam mengabdi untuk mengisi pemerintahan membuat kuliah Faried terpaksa terbengkelai. Meski demikian, Faried tetap melakukan daftar ulang agar tetap tercatat menjadi mahasiswa UNAIR.
“Saat itu saya terpaksa meninggalkan kuliah, karena tidak mau mengecewakan yang sudah memberi mandat. Namun, saya juga tetap daftar ulang setiap tahunnya, baru setelah tahun ke-17 saya selesai,” kenangnya sembari tertawa.
Selanjutnya, Faried mulai berkisah mengenai perjalanan merintis usaha travel. Ia mengaku, untuk memulai usaha dalam bidang travel membutuhkan waktu yang lama. Terlebih usaha yang ia rintis merupakan usaha yang bergerak dalam pelayanan ibadah umat.
“Selepas lulus tidak langsung mendirikan Tourindo seperti ini. Saya menunggu petunjuk dari Allah SWT. dan baru mulai memikirkan hal ini tahun 1995 pada saat haji yang kedua. Pada tahun itu, ada perasaan batin yang luar biasa. Saya ingin memiliki travel yang bisa memfasilitasi anak cucu, keluarga, dan masyarakat,” terang bapak tiga anak tersebut.
Merintis usaha saat negara dalam kondisi krisis memang tidaklah mudah. Faried menegaskan bahwa ketekunan dan keuletan menjadi modal utama untuk menghadapi berbagai kondisi, meski harus dalam kondisi krisis.
“Lahir pada saat krisis memang sulit. Modal utama adalah ketekunan dan keuletan dan terus mengembangkan jaringan. Situasi apapun adalah peluang, tergantung kita menyikapai. Sepanjang kita cerdas untuk menyiasati keadaan,” paparnya.
Di akhir wawancara, Faried tidak lupa memberikan saran dan masukan untuk almamater tercinta. Sebagai bagian dari anggota wali amanah UNAIR, Faried sadar bahwa tantangan ke depan bagi UNAIR memang tidaklah mudah, terlebih untuk menyongsong menjadi kampus 500 dunia.
“Memang ini tantangan yang tidak kecil untuk membawa nama almamater agar menjadi kampus yang berwibawa dan melahirkan generasi emas bangsa. Kita membutuhkan semua mitra. Tidak hanya rektor dan mahasiswa, tapi semua pihak,” pungkasnya.
Penulis: Nuri Hermawan





