Seperti yang kita ketahui saat ini Corona Virus Disease (Covid-19) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus-2 (SARS-CoV-2). Penularan penyakit ini terjadi melalui droplet/butiran air yang keluar saat batuk atau bersin. Virus ini menginfeksi sel-sel saluran napas pada manusia yang melapisi alveoli. Manifestasi klinis pasien Covid-19 ini bermacam-macam, mulai dari tanpa gejala (asimtomatik), gejala ringan, pneumonia, pneumonia berat, dan ARDS (acute respiratory distress syndrome), sepsis, hingga syok sepsis. ARDS merupakan penyebab utama kematian pada pasien Covid-19. Penyebab terjadinya ARDS adalah Badai Sitokin (Cytokine Storm), dimana terjadi respons peradangan di seluruh tubuh yang tidak terkontrol. Sitokin ini adalah suatu protein yang dihasilkan oleh sel untuk merespons peradangan atau inflamasi.
Tanaman obat Kurkumin atau sering dikenal dengan nama Kunyit sudah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Kunyit mengandung tiga senyawa turunan Kurkumin yang disebut Kurkuminoid. Komponen ini juga terdapat pada beberapa jenis rimpang lainnya seperti Temulawak. Nama Curcuma berasal dari kata arab “Turmeric” yang berarti kuning. Kurkuminoid inilah yang memberikan warna kuning yang mempunyai sifat sebagai antioksidan. Senyawa yang berasal dari sumber botani seperti Kurkumin ini, telah menunjukkan aktivitas anti peradangan atau anti inflamasi. Selain itu Kurkumin berkhasiat untuk menurunkan kadar kolesterol darah, meningkatkan kontraksi kantong empedu, meningkatkan produksi cairan empedu, menghambat pertumbuhan bakteri, merelaksasi otot polos saluran cerna, memiliki daya proteksi terhadap kerusakan hati, dan juga sebagai anti peradangan. Dalam pengobatan Cina dan Ayurveda, rimpang Kunyit ini dipercaya sebagai obat anti peradangan, gangguan pencernaan, penyakit hati dan pengobatan penyakit kulit serta dapat mengobati luka. Lalu bagaimana Kunyit ini dipercaya dapat menjadi alternatif terapi peradangan pada Covid-19?
Saat tubuh mengalami cedera, iritasi atau infeksi, maka terjadi respons inflamasi atau peradangan akut yang bertujuan untuk menyembuhkan jaringan yang rusak. Namun, ketika respons akut itu tidak efektif, maka tubuh melanjutkan respons inflamasi tersebut menjadi kronis. Sel imunitas menggunakan berbagai sel yang rusak yang disebut sebagai radikal bebas untuk menghilangkan berbagai penyebab penyakit. Namun kelebihan produksi radikal bebas ini dapat menghasilkan suatu keadaan yang disebut sebagai stres oksidatif yang dapat menyebabkan gangguan fungsi sel dan respons peradangan hingga mengarah ke kerusakan sel, penuaan, dan penyakit lainnya.
Kurkumin atau kunyit memberikan efek anti inflamasi dengan mengatur jalur peradangan dan menghambat produksi mediator inflamasi. Penghambatan jalur-jalur ini akhirnya akan menekan ekspresi gen untuk sitokin inflamasi. Kurkumin secara langsung mampu menghambat produksi reactive oxygen species (ROS) yang merupakan salah satu bentuk radikal bebas. ROS ini dapat mempengaruhi berbagai mekanisme di dalam sel. Dengan dihambatnya faktor peradangan ini, Kurkumin dapat secara umum menghentikan peradangan kronis, sehingga badai sitokin dapat dicegah.
Pada beberapa penelitian, terbukti bahwa Kurkumin mempunyai potensi besar sebagai anti inflamasi untuk mengobati Covid-19. Penggunaan Kurkumin sebagai obat tambahan dalam pengobatan Covid-19 juga memiliki manfaat lain seperti mengurangi biaya pengobatan, mempercepat pemulihan, dan mencegah tromboemboli pasca-Covid-19. Kurkumin memiliki aktivitas anti inflamasi dan memberikan efek antitrombotik yang dapat mengurangi kekentalan darah. Dengan demikian risiko pengembangan pembekuan darah dan komplikasinya dapat dicegah. Bila Kurkumin dikombinasikan dengan antivirus dan pengencer darah lainnya, akan menunjukkan efektivitas yang baik. Selain itu, efek antibakteri dan antijamur dari Kurkumin dapat berperan dalam mencegah infeksi sekunder, sehingga mendorong pemulihan dini.
Kurkumin/Kunyit merupakan senyawa yang hampir tidak larut dalam air, tetapi cukup stabil dalam pH asam lambung. Kurkumin dimetabolisme dengan cepat dan sisa-sisa metabolisme tersebut dikeluarkan dari tubuh bersama dengan kotoran tubuh, yaitu feses, sehingga Kurkumin termasuk senyawa yang ketersediaan hayatinya terbatas di dalam tubuh manusia. Karakteristik Kurkumin ini dapat diatasi dengan penambahan pemberian Piperin. Pawar et al. (2021) telah melakukan uji klinis acak dengan pemberian Kurkumin dan Piperin secara oral sebagai terapi tambahan Covid-19. Pemberian Kurkumin yang dikombinasi bersama Piperin terbukti dapat meningkatkan bioavailabilitas atau ketersediaan hayati Kurkumin yang rendah karena dimetabolisme dengan cepat. Dari penelitian ini didapatkan bahwa Kurkumin yang diberikan bersama Piperin dapat memulihkan gejala Covid-19 lebih awal, yaitu demam, batuk, sakit tenggorokan dan sesak napas. Di samping itu, dapat mengurangi kebutuhan pemberian oksigen dan pemasangan ventilator, sehingga secara substansial mengurangi durasi rawat inap pada pasien Covid-19 dengan derajat sedang dan berat, serta dapat menekan tingkat kematian.
Penulis: Maftuchah Rochmanti, Rosa Arsa Maulidiyah Syahrani, Firmansyah Adhitama Prayoga, Sakina Sakina
Detail tulisan lengkap dapat dilihat:
Firmansyah Adhitama Prayoga, Khrisna Adhityapurwita Ismanda, Ahda Basma Muafa, Rosa Arsa Maulidiyah Syahrani, Maftuchah Rochmanti, Sakina Sakina, 2022. Curcumin as Anti-inflammatory Therapy in Covid-19 Cases: A Literature Review. World Journal of Advanced Research and Reviews, Volume: 15, Issue: 1.
DOI: 10.30574/wjarr.2022.15.1.0708





