Universitas Airlangga Official Website

Langkah Cerdas BEM FST UNAIR Tekankan Pengembangan Diri melalui Beasiswa

Achmad Wahyu Ramadhan dalam Acara Career Talk x DEBM BEM FST UNAIR (18/10/2025). (Foto: Istimewa)
Achmad Wahyu Ramadhan dalam Acara Career Talk x DEBM BEM FST UNAIR (18/10/2025). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Dalam rangka mempersiapkan mahasiswa menghadapi peluang dan jenjang karir di masa depan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR) menyuguhkan Career Talk x DEBM. Kegiatan yang bertema Road to Apprenticeship, Internship, Scholarship, and Employment (RAISE)  itu berlangsung pada Sabtu (18/10/2025), di Ruang 207, Lantai 2 Gedung Kuliah Bersama (GKB), Kampus Merr-C, Universitas Airlangga (UNAIR). 

Kegiatan itu menghadirkan narasumber inspiratif, Achmad Wahyu Ramadhan, mahasiswa peraih berbagai program beasiswa. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa beasiswa bukan semata persoalan dana yang tersalurkan, melainkan sebagai wadah pengembangan diri. 

“Pengembangan diri harus dimulai sejak dini. Kita perlu strategi yang jelas untuk kedepannya, mulai dari aktif berorganisasi, berprestasi, dan terus belajar. Karena proses bertumbuh tidak didapatkan secara instan, tetapi membutuhkan waktu dan konsistensi,” ujarnya. 

Ia menekankan pentingnya mengetahui batas kemampuan diri sendiri dan mengatur waktu dengan baik. “Sebagai penerima beasiswa, harus mampu menjaga keseimbangan antara kegiatan akademik dan kegiatan non-akademik. Gunakan kesempatan untuk menambah value diri, bukan sekedar memperbanyak relasi tanpa arah,” imbuhnya. 

Lebih lanjut, Achmad menjelaskan bahwa personal branding dengan value unik menjadi faktor penting dalam proses seleksi beasiswa. ”Pada umumnya, penyelenggara lebih tertarik pada mahasiswa yang berkompeten, seperti aktif berorganisasi, berprestasi, dan memiliki kontribusi nyata, terlebih jika telah memiliki personal branding yang kuat,” jelasnya. 

Selain itu, kemampuan menulis juga menjadi hal krusial. Dalam menulis esai, ide harus kuat dan menonjol. Sedangkan dalam menulis motivation letter, perlu menjabarkan motivasi, nilai hidup, rencana kontribusi. “Buatlah tulisan dengan gaya bercerita, bukan daftar atau poin-poin prestasi. Tunjukkan bahwa kamu punya growth mindset, bukan fixed mindset,” tegasnya.

Selanjutnya, Achmad menekankan pentingnya melatih diri sebelum wawancara agar lebih percaya diri. Menurutnya, kesalahan fatal yang sering terjadi adalah tidak membaca panduan dengan teliti, tidak memahami visi lembaga pemberi beasiswa, dan kurang menunjukkan rencana kontribusi setelah diterima. 

“Fokuslah pada satu hal, yakni sikap tenang. Kuasai motivation letter dan gunakan teknik STAR (Situation, Task, Action, Result),” ungkapnya.  

Ia mengimbau agar mahasiswa bisa mencari informasi beasiswa independen yang terpercaya. “Jangan mudah percaya pada beasiswa dengan persyaratan terlalu rumit. Jadilah proaktif dan terus bertumbuh. Dan jangan menunggu sempurna untuk mencoba, kesiapan tumbuh dari keberanian pertama,” pungkasnya. 

Penulis: Bethari Sri Indrajayanti

Editor: Khefti Al Mawalia