UNAIR NEWS – Afrigh Abrar Brahmantya menjadi salah satu mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang lulus dengan segudang prestasi. Ia resmi dinyatakan lulus pada wisuda periode 261 UNAIR. Lulusan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) itu aktif menorehkan berbagai capaian selama masa perkuliahan. Di balik berbagai pencapaian tersebut, ia menyimpan perjalanan yang tidak selalu mudah.
Sejak awal perkuliahan, Afrigh mengaku kerap merasa tertinggal dari teman-temannya. Ia menilai kemampuan bahasa Inggris yang ia miliki, terutama dalam tata bahasa, belum sebaik mahasiswa lain. Rasa kurang percaya diri itu pun sempat menjadi tantangan tersendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai belajar dari lingkungan sekitar, memperluas relasi, dan perlahan membangun kepercayaan diri melalui berbagai pengalaman.
“Saya sempat merasa tidak sepintar teman-teman lain. Namun, seiring waktu saya banyak belajar dari mereka dan mulai percaya diri untuk menunjukkan kemampuan yang saya miliki,” ujarnya.
Perjalanan dan Capaian

Dalam perjalanannya, Afrigh berhasil meraih berbagai capaian membanggakan. Ia dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi FIB pada 2023 dan 2025, menjadi delegasi AUN-Summer Camp di Ateneo de Manila University 2025, serta meraih Student Outbound Awardee ke INTI International University 2025. Ia juga berhasil memperoleh Djarum Beasiswa Batch 40 pada 2024 setelah melalui berbagai proses seleksi yang tidak mudah.
Selain berprestasi secara akademik, Afrigh juga aktif mengembangkan diri melalui organisasi. Ia berkontribusi dalam Indonesian Youth Diplomacy (IYD) East Java sebagai Human Resources Officer. Tidak hanya itu, ia juga mengemban amanah sebagai Vice President Human Resources di Lingkar Prestasi FIB UNAIR serta terlibat sebagai Staf Human Resources di UKM Garuda Sakti UNAIR. Berbagai pengalaman tersebut membentuk kemampuan kepemimpinan, komunikasi, serta manajemen dirinya.
Belajar dari Kegagalan
Bagi Afrigh, kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses yang perlu ia hadapi. Afrigh mengaku sempat gagal hingga tujuh kali saat mencoba berbagai beasiswa sebelum akhirnya berhasil pada percobaan kedelapan.
“Saya memegang prinsip untuk mencoba berbagai hal. Saya tidak terlalu memikirkan hasil, tetapi lebih fokus pada proses. Terlebih di dua tahun pertama kuliah yang menurut saya merupakan golden age untuk bereksplorasi,” tuturnya.
Ke depan, Afrigh berharap dapat terus mengembangkan diri dan memanfaatkan pengalaman yang telah ia peroleh untuk memberikan kontribusi yang lebih luas. Baik dalam bidang akademik maupun di masyarakat.
Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Yulia Rohmawati





