n

Universitas Airlangga Official Website

Lima Mahasiswa UNAIR Bantu Evakuasi Bom Gereja di Surabaya

metro tempo co
Ilustrasi metro tempo co

UNAIR NEWS – Lima mahasiswa UNAIR turun langsung membantu proses evakuasi dan penyelamatan korban BOM di 3 Gereja, Surabaya pekan lalu (13/05).  Kelima mahasiswa tersebut, Rizqi Supramulyana Putra dari FKM, Fadhailul Chorizu dari FISIP, Ratna Tri Wahyu dari FPK, Indra Maulana dari FEB, dan Sagita Wulan Sari dari FKp. Kesemuanya tergabung dalam satu organisasi, UKM KSR-PMI, UNAIR. Sebelumnya,  Rizqi Supramulyana Putra menjelaskan, waktu itu adalah jadwal mereka berjaga shift pagi di Markas PMI kota Surabaya.

“Penjagaan tersebut diperuntukkan untuk mem-backup kejadian kecelakaan, bencana atau hal sesuatu tidak diinginkan terjadi di Kota Tercinta. Dikomandokan secara langsung oleh Command Center, tempat melapor masyarakat Surabaya  dengan nomor call center 112,” jelas Supra, sapaan akrabnya.

Setelah pengeboman di tiga Gereja terjadi, Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, jelasnya, tim disebar pada 3 titik lokasi kejadian. Ketika sudah di lokasi kejadian, tim menyempatkan untuk menelpon orang tua untuk meminta doa agar selamat dan bisa lebih tenang dan semangat karena sudah memberikan kabar.

“Sesampainya disana, Kami dari PMI dibantu dengan rekan-rekan dari jajaran yang lain berusaha untuk menyelamatkan dan mengevakuasi para korban yang selamat agar segera dilakukan perawatan dan dirujuk ke rumah sakit,” imbuh Supra.

Banyaknya insiden yang terjadi disana, jelasnya, sempat membuat tim mengalami kesulitan karena terjadi kebakaran sehinggga menunggu api ditaklukkan oleh pemadam kebakaran. Bukan tanpa bekal, kelima mahasiswa tersebut sudah melewati 120 jam pelatihan diklat dasar dan dua dari mereka pernah ikut spesialisasi Pertolongan pertama. Sebanyak itulah yang bisa mereka berikan langsung ke Masyarakat.

“Meskipun begitu, hati kami sebenarnya was-was juga saat di lokasi karena kami masuk pada range 1 yang masih dimungkinkan terjadi ledakan susulan atau hal yang tidak diinginkan. Tapi bagaimanapun sikap itu sudah menjadi tanggung jawab kami,” ungkapnya.

Hal itu, baginya, memang sudah menjadi kewajiban mahasiswa sebagai perwujutan pengabdian masyarakat.  Hal itu sesuai yang diajarkan untuk melakkan pengabdian sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ke-3.

Setelah kejadian itu, mereka berharap masyarakat tetap bisa tenang meski Surabaya masih belum kondusif. Tidak takut, bukan berarti tidak waspada, tetapi waspada sebagai perlindungan untuk diri sendiri dan orang-orang yang ada di sekitar kita.

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Nuri Hermawan