Universitas Airlangga Official Website

Literasi Kesehatan Digital terkait COVID-19 dan Penggunaan Media Sosial

Covid-19
Illustrasi virus corona (sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Banten)

Pandemi COVID-19 merupakan wabah global pertama yang terjadi pada era kemajuan tekonologi informasi digital. Selain pemanfaatannya yang besar dalam menunjang upaya penanggulangan pandemi, teknologi informasi digital bagaikan pedang bermata dua yang menimbulkan ekses negatif munculnya infodemi “tsunami informasi”. Teknologi informasi digital, salah satunya platform media sosial, memungkinkan diseminasi dan proliferasi informasi yang kilat dan masif. Informasi tersebut bisa jadi sahih dan bermanfaat, namun nyatanya kandungan misinformasi dan disinformasi mendominasi ruang diskusi virtual di media sosial.

Misinformasi dan disinformasi menjadi kendala besar yang menurunkan tingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan maupun penerimaan vaksin. Literasi kesehatan digital dipandang penting dan perlu dikembangkan pada masyarakat Indonesia, sebagai salah satu upaya menangkal dampak infodemi.

Literasi kesehatan digital adalah pengembangan dari konsep literasi kesehatan yang diartikan sebagai “kemampuan masyarakat untuk menemukan, memahami, menilai, dan menerapkan informasi kesehatan sebagai dasar penilaian dan pengambilan keputusan mengenai pelayanan kesehatan, pencegahan penyakit, dan promosi kesehatan dalam rangka mengoptimalkan kualitas hidup”. Definisi yang sama berlaku untuk literasi kesehatan digital, namun informasinya berasal dari sumber daring.

Sekolah sejatinya adalah tempat ideal dalam memberikan pendidikan kesehatan, yang diharapkan dapat meningkatkan literasi kesehatan digital. Lulusan SMA, yang dipandang sebagai manusia dewasa yang siap berpartisipasi aktif dalam masyarakat, seyogyanya memiliki literasi kesehatan digital yang memadai, sebagai salah satu modal dasar pemeliharaan kesehatan pribadi dan lingkungan yang akan menentukan kualitas kesehatan sepanjang hidup. Namun, ada kekhawatiran kelompok usia remaja SMA, rentan terhadap dampak misinformasi akibat frekuensi penggunaan media sosial yang tinggi.

Pada penelitian ini, 432 siswa SMA di Surabaya dan Sidorajo berusia 15-18 tahun direkrut dan partisipasi mereka sebagai responden adalah dengan sukarela dan atas ijin yang diberikan kepala sekolah. Siswa diminta mengisi kuesioner yang dibagikan melalui platform online. Literasi Kesehatan digital yang terkait COVID-19 dinilai melalui instrumen literasi kesehatan digital yang dikembangkan oleh Rosalie dan Drossaert, yang kemudian disesuaikan dengan konteks COVID-19 oleh Dadaczynski dkk.

Hasil penelitian ini menunjukkan 56,5% responden memiliki literasi kesehatan digital yang memadai. Meskipun 81,7 % responden merasa mudah dalam mencari informasi kesehatan secara daring, hanya 53,5 % yang merasa mudah dalam menilai reliabilitas dari informasi kesehatan. Siswa yang memiliki ayah berlatar belakang pendidikan sarjana menunjukkan skor literasi kesehatan digital yang lebih tinggi.

Begitu pula, siswa yang pernah mengalami COVID-19, baik dirinya sendiri ataupun anggota keluarganya, menunjukkan skor yang lebih tinggi pada aspek kemampuan pencarian informasi kesehatan. Instagram dan TikTok adalah platform media sosial yang paling banyak dipilih sebagai sumber informasi kesehatan digital oleh siswa SMA, namun tidak ada perbedaan bermakna dalam hal skor literasi kesehatan digital berdasarkan pilihan platform media sosial. Penelitian ini memberikan justifikasi terhadap pentingnya upaya meningkatkan literasi kesehatan digital siswa SMA, terutama dalam aspek penilaian kesahihan informasi kesehatan.

Hal ini tidak terbatas dalam konteks COVID-19, namun tentunya dalam berbagai aspek kesehatan remaja, misalnya kesehatan reproduksi, gizi, pencegahan penggunaan NAPZA, dsb. Selain itu, pemangku kebijakan kesehatan perlu mengoptimalkan penggunaan media sosial untuk promosi kesehatan. Dengan demikian, akan menciptakan ruang yang lebih luas bagi penyediaan informasi kesehatan yang sahih dan terpercaya, sebagai satu upaya penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan Masyarakat.

Penulis: Dr. Arifa Mustika, dr., M.Si

Baca juga: Rumor dan Resistensi Terhadap Vaksin COVID-19 di Indonesia