UNAIR NEWS – Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) sukses menyelenggarakan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD). Kegiatan yang berlangsung pada Kamis-Jumat (3-4/5/2025) ini berlangsung di Aula Fakultas Vokasi Gedung A, Kampus Dharmawangsa-B, UNAIR.
Acara penting ini dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Satu Fakultas Vokasi UNAIR, Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi. Dalam sambutannya, Prof Tika mengatakan bahwa LKMM-TD merupakan wadah yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk mengembangkan soft skill yang esensial. “Seorang pemimpin hebat tidak lahir secara instan, melainkan melalui serangkaian proses dan pengalaman,” ungkapnya.
Prof Dr Tika menambahkan bahwa para peserta LKMM-TD adalah individu-individu terpilih dari ribuan mahasiswa Fakultas Vokasi lainnya yang belum berkesempatan mengikuti pelatihan serupa. Sehingga kesempatan ini menjadi jenjang penting dalam perjalanan organisasi mereka yang patut diikuti dengan sungguh-sungguh.
Pengendalian Konflik
Kali ini, LKMM-TD Fakultas Vokasi menghadirkan Dr Himmatul Kholidah SEI MEI selaku pemateri. Ia memaparkan, dalam sebuah organisasi konflik pasti sering kali muncul. Berbagai tingkatan konflik dapat terjadi, mulai dari konflik internal individu, antarindividu, antara individu dan kelompok, hingga antar kelompok dan organisasi.
“Konflik pada dasarnya berakar dari disharmoni dan perbedaan yang bertolak belakang, serta sulitnya mencapai kesepakatan. Sifatnya yang dinamis memungkinkan konflik untuk terus berkembang sejalan dengan perubahan di sekitarnya,” ungkap Himmatul.

Berbagai sumber konflik seperti misinformasi, miskomunikasi, faktor personal, dan lingkungan seringkali menjadi pemicu ketegangan antar individu maupun kelompok. “Dalam sebuah konflik, umumnya akan melibatkan sejumlah elemen kunci. Termasuk aktor yang terlibat langsung, objek atau isu yang menjadi pokok permasalahan, situasi yang melatarbelakangi konflik. Mediator yang mungkin hadir untuk membantu penyelesaian, pihak-pihak yang berkonflik, pemimpin yang mungkin mengambil peran, serta anggota lain yang turut terdampak,” jelasnya.
Tangani dengan SMART
Lebih lanjut, Himma mengungkapkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan penanganan konflik secara efektif, ada serangkaian tahapan. Tahapan tersebut mengedepankan metode Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound (SMART). “Proses penanganan konflik diawali dengan identifikasi masalah secara saksama. Langkah ini bertujuan untuk memahami secara mendalam akar permasalahan serta ruang lingkup konflik yang sedang terjadi,” terangnya.
Ia menjelaskan bahwa metode SMART menjadi landasan utama dalam fase identifikasi masalah ini. Penerapan metode SMART dalam identifikasi masalah berarti bahwa setiap potensi solusi harus memiliki tujuan yang spesifik. Juga indikator keberhasilan yang dapat diukur secara jelas, tingkat realisasi yang sesuai dengan sumber daya yang ada, relevansi yang kuat dengan akar permasalahan, serta batasan waktu yang terdefinisi.
Setelah kerangka solusi terbentuk, tahapan krusial berikutnya adalah mengembangkan berbagai alternatif solusi. Proses ini melibatkan curah pendapat dan analisis mendalam untuk menghasilkan beragam opsi yang potensial.
“Setiap alternatif kemudian dievaluasi secara komprehensif, mempertimbangkan berbagai aspek vital. Seperti alokasi waktu yang dibutuhkan, implikasi biaya yang mungkin timbul, potensi risiko yang menyertai, serta dampak yang diharapkan maupun yang tidak diinginkan,” imbuhnya.
Penulis: Arifatun Nazilah
Editor: Yulia Rohmawati





