Universitas Airlangga Official Website

Magister Linguistik UNAIR Bahas Interaksi Bahasa Manusia dan AI

Potret Peter Ardhianto PhD saat menyampaikan materi Kuliah Tamu Prompting the Machine: Interaksi Perintah Bahasa Manusia dan AI yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Linguistik. (Foto: Istimewa)
Potret Peter Ardhianto PhD saat menyampaikan materi Kuliah Tamu Prompting the Machine: Interaksi Perintah Bahasa Manusia dan AI yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Linguistik. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Perkembangan Akal Imitasi (AI) menghadirkan cara baru bagi manusia untuk memproduksi gagasan, visual, hingga teks. Namun, di balik kemudahan, interaksi antara bahasa manusia dan mesin justru menjadi aspek krusial yang menentukan kualitas keluaran AI. Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam kuliah tamu bertajuk Prompting the Machine: Interaksi Perintah Bahasa Manusia dan AI yang diselenggarakan Program Studi Magister Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga pada Selasa (18/11/2025).

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom itu menghadirkan Peter Ardhianto PhD, seorang peneliti dan desainer yang secara aktif mengembangkan berbagai proyek berbasis AI dalam berbagai ranah studi maupun industri. Dalam paparannya, Peter menegaskan bahwa prompting bukan sekadar manusia mengetik perintah untuk AI, melainkan sebuah proses linguistik yang menentukan bagaimana suatu mesin memahami instruksi manusia.

“AI tidak membaca gambar secara langsung. Ia membaca deskripsi linguistiknya terlebih dahulu sebelum mengeksekusi visual,” ujarnya. Karena itu, menurut Peter, kualitas sintaksis, semantik, dan pragmatik dalam prompt sangat berpengaruh terhadap dihasilkan mesin.

Peter menjelaskan bahwa prompt bekerja layaknya konstruksi bahasa. Penyusunan jenis visual, subjek, detail, lingkungan, suasana, hingga gaya suatu prompt menjadi struktur penting yang menentukan ketepatan keluaran. Pemahaman tersebut ia terapkan dalam berbagai proyek, mulai dari pembuatan motif batik bakaran hingga rekonstruksi figur atau arca era majapahit.

Dalam proses rekonstruksi budaya, Peter menyinggung tantangan besar ketika model AI tidak pernah mengenal istilah asing yang kerap ditemukan dalam representasi suatu budaya khususnya pada figur bersejarah seperti jatah matukah, sumping, atau binggel kaki. “Model komersial tidak punya data untuk itu. Maka kami harus melatihnya dari nol agar ketika kami mengetik istilah tersebut, mesin bisa memahami,” jelasnya.

Peter menekankan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran manusia karena AI tidak hidup dalam pengalaman dan momen. Mengacu pada taksonomi Bloom, ia menjelaskan bahwa AI bekerja di ranah keterampilan berpikir tingkat rendah yang berbasis memori, bukan pada ranah analitis atau kreatif yang menuntut empati dan intuisi seorang manusia. 

“AI tampak pintar karena ia belajar dari banyak data. Tapi manusia lebih kaya karena punya pengalaman estetik, konteks, dan intuisi. AI hanya membantu, bukan menggantikan,” tuturnya.

Ia juga mengibaratkan cara manusia memanfaatkan AI dalam menggunakan teknologi seperti memilih antara menjadi Nobita dari film kartun jepang Doraemon atau Iron Man dari series Marvel Cinematic Universe (MCU). “Kalau kita hanya bergantung pada AI, ya seperti Nobita yang cuma bisa mengandalkan Doraemon. Tapi kalau kita memahami teknologinya, kita bisa seperti Iron Man dengan Jarvis, kita yang mengendalikan AI.”

Peter mengajak mahasiswa untuk memahami bahasa sebagai inti dari komunikasi manusia dan mesin. “Prompting itu bukan hanya perintah teknis, tetapi cara kita berkomunikasi. Dan komunikasi yang baik hanya mungkin lahir dari pemahaman bahasa yang baik pula.”

Penulis: Tsabita Nuha Zahidah

Editor: Khefti Al Mawalia