UNAIR NEWS – Minimnya informasi di tempat wisata seringkali membuat pengunjung kesulitan untuk memahami latar belakang atau sejarah yang ada. Masalah inilah yang mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Belajar Bersama Komunitas (BBK) Universitas Airlangga (UNAIR) kelompok 6 menggagas program Wisgo atau Wisata Go International di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.
Raditya Fatah Maulana selaku ketua kelompok menjelaskan, program tersebut mereka rancang setelah mengetahui bahwa masih banyak warga Desa Kresek yang belum terbiasa dengan bahasa asing. Padahal desa tersebut memiliki potensi yang besar sebagai tujuan wisata sejarah.

Wisata Go International
Fokus utama dari program Wisgo ialah Monumen Kresek, situs bersejarah yang berkaitan dengan peristiwa PKI (Partai Komunis Indonesia) Madiun 1948. Sebelumnya, penjelasan mengenai monumen hanya tersedia dalam satu banner berbahasa Indonesia yang terpasang di area pendopo.
Tim KKN BBK 6 lalu membuat banner baru berbahasa inggris serta blog dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang untuk mempermudah wisatawan lokal maupun mancanegara. Pengunjung dapat mengakses blog dengan memindai barcode yang terpasang di area pendopo dan meja tiket monumen.
Selain itu, blog juga berisi penjelasan tambahan untuk istilah lokal seperti kiai atau patih yang sulit diberi padanan kata dalam bahasa asing dan detail informasi sejarah yang belum dicantumkan secara lengkap. “Kami tambahkan informasi, seperti batu prasasti, surat peresmian, sampai nama-nama korban yang tercantum di area monumen,” ujarnya.
Setelah berkoordinasi dengan pengelola monumen, mereka kemudian melakukan penerjemahan. Proses tersebut berlangsung selama dua hari sejak Jumat hingga Sabtu (25-26/7/2025), kemudian dilanjut dengan desain banner dan pemasangan pada Kamis (31/7/2025).
“Monumen Kresek jangan lagi dilihat sebagai tempat yang seram karena isu sejarahnya. Kami ingin orang datang karena nilai edukatifnya, sambil menikmati suasana desanya,” harapnya.
Ohayou Kresek dan Bimbel SD
Sebagai bentuk dukungan terhadap program Wisgo, tim juga menjalankan dua program lain yakni Ohayou Kresek, kelas bahasa Jepang untuk masyarakat umum, serta bimbingan belajar (bimbel) bahasa Inggris untuk siswa SD. Keduanya merupakan langkah lanjutan untuk memperkenalkan bahasa asing kepada warga, khususnya anak-anak.
Radit memaparkan bahwa kelas Ohayou Kresek terselenggara setiap Sabtu di Balai Desa. Selama tiga kali pertemuan, para peserta belajar dasar-dasar bahasa Jepang melalui materi yang telah tim KKN BBK 6 susun. “Kami juga buat komunitas belajar agar program ini berkelanjutan. Di sana kami bagikan tabel hiragana dan katakana (aksara Jepang), serta sumber belajar gratis lainnya,” ungkapnya.
Sementara untuk bimbel bahasa Inggris bertempat di SDN 1 Kresek. Program juga berlangsung dalam tiga kali pertemuan, dengan siswa yang terbagi menjadi dua kelompok. Kelas kecil mencakup siswa kelas satu hingga tiga yang fokus pada latihan baca tulis. Sedangkan kelas besar, terdiri dari siswa kelas empat hingga enam, belajar kosakata dasar seperti pronoun dan action verb.
Melalui pengabdian tersebut, Radit mewakili tim berharap agar program tidak berhenti sebagai agenda sementara semata. “Bahasa asing apapun itu, bahasa Inggris atau bahasa Jepang menurut saya itu investasi masa depan. Karena bisa membuka akses pendidikan, kerja, bahkan ke luar negeri,” pungkasnya.
Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda
Editor: Ragil Kukuh Imanto





