UNAIR NEWS – Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 International Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) bersama dosen dan mahasiswa Shizuoka University, Jepang, pada Kamis, 29 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari kedua kedatangan mahasiswa UNAIR di Prefektur Shizuoka sebagai bentuk nyata pengabdian masyarakat sekaligus dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam Disaster Management Preparation & Lecture.
FGD diselenggarakan setelah mahasiswa memperoleh materi berjudul “Disaster Prevention in Japan: Cases of The Great East Japan Earthquake & Shizuoka Prefecture” yang disampaikan oleh Dr. Miki Mochizuki, Ph.D, Assistant Professor di Shizuoka University. Melalui sesi ini, mereka mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai disaster risk reduction, kesiapsiagaan bencana, serta strategi penanganan bencana di Jepang. Pengetahuan tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa UNAIR untuk diterapkan saat terjun langsung ke masyarakat Shizuoka serta dibagikan kembali kepada masyarakat dan mahasiswa di Indonesia sebagai upaya peningkatan risk awareness.
FGD bertujuan untuk membangun keakraban antar mahasiswa lintas negara, menggali pengalaman kebencanaan, serta memperdalam pemahaman terkait community preparedness, resilience, dan penanganan bencana alam. Seiring berjalannya diskusi, mahasiswa UNAIR menunjukkan keselarasan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), SDG 13 (Climate Action), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 3 (Good Health and Well-being).
Mahasiswa UNAIR dibagi ke dalam enam kelompok bersama dosen dari Universiti Teknologi Malaysia serta mahasiswa Shizuoka University. Dalam diskusi, peserta saling bertukar pengalaman terkait bencana alam di negara masing-masing. Salah satu mahasiswa Shizuoka University menjelaskan bahwa setiap wilayah di Jepang memiliki karakteristik bencana yang berbeda. “Di Shizuoka gempa bumi sering terjadi, sementara kota asalku, Kyoto, lebih sering mengalami banjir,” ungkapnya. Mahasiswa UNAIR juga menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kondisi serupa dengan Jepang, dengan berbagai jenis bencana seperti gempa bumi, tsunami, dan banjir.
Dalam pembahasan SDG 11 – Sustainable Cities and Communities, diskusi berfokus pada perbandingan sistem penanganan bencana di Indonesia dan Jepang, terutama dalam konteks disaster risk reduction, community preparedness, dan pembangunan perkotaan setelah terjadinya bencana. Mahasiswa UNAIR menjelaskan bahwa pascapandemi COVID-19, banyak bentuk bantuan dan respon bencana di Indonesia dilakukan secara digital, termasuk penggalangan dana online melalui berbagai platform.
Selanjutnya, diskusi mengenai SDG 13 – Climate Action menyoroti peran pemerintah dan komunitas dalam climate adaptation, disaster preparedness, serta penguatan climate resilience. Sementara itu, pada SDG 4 – Quality Education, peserta menekankan pentingnya disaster education, capacity building, dan peningkatan risk awareness sebagai fondasi utama dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Pembahasan SDG 3 – Good Health and Well-being difokuskan pada aspek emergency response, first aid, serta perhatian terhadap kesehatan mental para korban bencana.
Meskipun pelaksanaan FGD menghadapi beberapa kendala, seperti perbedaan bahasa dan keterbatasan pengetahuan awal peserta, kegiatan tetap berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan. Tidak hanya mahasiswa UNAIR yang memperoleh wawasan mengenai sistem kebencanaan di Jepang dan Malaysia, tetapi mereka juga berkesempatan menyampaikan berbagai celah dan tantangan yang masih dihadapi masing-masing negara. Melalui pertukaran pengetahuan ini, diharapkan setiap negara dapat saling mengadopsi praktik terbaik yang relevan dan menyesuaikannya dengan kondisi lokal, guna memperkuat kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat terhadap bencana di masa depan.
Penulis: Nayla Camelia May Amandadeny





