UNAIR NEWS – Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga mengadakan kegiatan penyuluhan soal pakan ternak sekaligus pengolahan limbah kotoran hewan sebagai sumber pupuk alternatif bagi perkebunan atau persawahan sekaligus energi gas alternatif di Balai Desa Nogosari pada hari Sabtu siang hari (24/1/2026). Program ini “Cerdas Pakan Ternak & Moo Cycle” berangkat dari hasil survey tim mahasiswa terhadap demografi Desa Nogosari yang mayoritas penduduknya adalah petani dan peternak aktif sehingga program ini dirasa sangat relevan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Lebih-lebih didukung oleh saran dari Kepala Desa Nogosari, Yono, S.E. yang menganjurkan mahasiswa untuk mengadakan program penyuluhan yang berkaitan dengan peternakan.
Dua mahasiswa anggota BBK 7 Nogosari yakni Ferina dan Marcella ditunjuk menjadi pengampu untuk merancang program ini karena sebelumnya pernah melakukan praktik kegiatan serupa sehingga persiapan untuk program kali ini bisa menjadi lebih matang. Keperluan-keperluan utama kegiatan berupa bakteri, molase, hingga pengetahuan umum soal hewan ternak dan bakteri tidak lagi menjadi hambatan utama bagi anggota lainnya yang tidak menekuni program studi Kedokteran Hewan dan Sains. Program penyuluhan ini mengundang dua dosen dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) dan Fakultas Sains dan Data (FST) sebagai pemateri ahli yakni Prof. Dr. Mohammad Anam Al Arif, drh. MP. Dan Drs. Agus Supriyanto, M. Kes.
Praktik Pembuatan Bakteri dan Pengolahan Kotoran Hewan Ternak
Masyarakat yang hadir pada kegiatan ini cukup aktif dan antusias. Kegiatan dimulai dengan sesi materi dan praktik yang dipaparkan oleh pemateri dan mahasiswa. Pendekatan persuasif yang dilakukan oleh pemateri membuat warga aktif bertanya sehingga pemahaman warga menjadi lebih maksimal dan cukup memuaskan. Hasil praktik pengolahan kotoran hewan secara langsung oleh mahasiswa terbagi menjadi tiga produk. Pertama adalah pupuk yang terbuat dari campuran kotoran sapi dengan bakteri racikan dosen FST. Kedua, olahan biogas alternatif yang disimpan ke dalam wadah tertutup untuk nantinya dijadikan sebagai gas metana. Terakhir adalah campuran bakteri dengan molase yang dapat di duplikat dan digunakan seterusnya untuk pupuk cair sekaligus campuran serbaguna (biogas dan pupuk dari kotoran).
Pada sesi penutupan, warga yang hadir diberi produk bakteri yang telah diracik oleh para mahasiswa pada sesi praktik. Dengan ini harapannya warga dapat menggunakan produk bakteri tersebut untuk pengolahan limbah kotoran hewan sekaligus sumber pupuk pertanian alternatif dan berkelanjutan sehingga menciptakan swasembada pangan yang kuat. “Produk ini sangat bermanfaat bagi pertanian karena dapat mempersingkat masa panen dan dapat diproduksi secara mandiri sehingga ke depannya warga sekitar dapat menciptakan ketahanan pangan dan swasembada pangan yang tak kalah saing dengan negara-negara agraris lainnya.” ujar Pak Agus dosen FST pada sesi penutupan program.
Program kerja ini selaras dengan poin 12 Sustainable Development Goals (SDGs) yang memastikan pola konsumsi dan produksi bertanggung jawab dengan mengurangi limbah dan efisiensi sumber daya berkelanjutan untuk mempertahankan mata pencaharian generasi sekarang hingga masa depan. Kedua, poin 13 yang bertujuan untuk menciptakan resistensi terhadap perubahan iklim sehingga ketahanan pangan dapat bertahan dengan adanya swasembada pangan dari masyarakat lokal. Kedepannya, semoga program kerja ini dapat membantu menyelesaikan permasalahan umum masyarakat pertanian yang jauh dari akses kesehatan dan teknologi sehingga apa yang diwariskan baik itu berupa pengetahuan maupun produk dapat digunakan sebaik-baiknya untuk generasi kedepannya.
Penulis: Rival Alfiansyah





