Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa BBK Berdayakan Warga Sambimulyo Banyuwangi melalui Pengolahan Maggot

Proses pengolahan maggot oleh tim KKN BBK UNAIR Desa Sambimulyo, Banyuwangi (Foto: Narasumber)
Proses pengolahan maggot oleh tim KKN BBK UNAIR Desa Sambimulyo, Banyuwangi (Foto: Narasumber)

UNAIR NEWS – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Belajar Bersama Komunitas (BBK) Universitas Airlangga (UNAIR) mencanangkan program pengolahan maggot di Kelurahan Sambimulyo, Banyuwangi. Kegiatan yang terlaksana pada Jumat (17/1/2025) hingga dengan tujuan untuk memperkuat perekonomian warga serta untuk menjaga kebersihan lingkungan. Program ini menggunakan maggot dari lalat Black Soldier Fly (BSF). Hewan ini terkenal kaya manfaat sebagai pakan ternak dan pupuk organik. 

Pemilihan pengolahan maggot ini sejalan dengan masalah utama yang ada di Desa ini, yaitu pembuangan limbah organik. “Efektivitas maggot ini juga bisa memberikan nilai ekonomis. Terutama bagi warga yang mayoritas berprofesi sebagai peternak dan petani,” jelas salah satu anggota kelompok anggota KKN, Adrian. 

Adrian kepada UNAIR NEWS mengatakan, pada program ini maggot diolah menjadi pakan ternak dengan nutrisi tinggi, yang menggantikan pakan tradisional dengan pakan yang lebih mahal. Pupa maggot yang kaya protein dapat dijual sebagai pakan unggas dan ikan. Dalam solusi limbah, budi daya maggot dapat menjadi alternatif pupuk organik guna mendukung produksi pertanian. “Program ini memberikan dampak ganda. Selain mengurangi sampah organik, hasil budidaya maggot juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” imbuh Adrian. 

Tim KKN BBK memberikan pelatihan interaktif kepada warga sekitar. Pada awal tim KKN menjelaskan mengenai siklus hidup maggot dan berlanjut dengan metode budidaya. Masyarakat setempat mendapatkan bahan pakan, teknik pemeliharaan dan instruksi. “Kelompok kami juga menunjukkan secara langsung, hasil pengolahan maggot menjadi pakan ternak dan pupuk organik. Guna membangun kepercayaan terhadap warga,” ucap mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) itu. 

Sebagai tantangan kecil dari program ini, Adrian menuturkan bahwa masih ada warga yang belum mengetahui tentang maggot. Beberapa di antaranya mengira maggot sama dengan belatung. “Setelah kami jelaskan kepada mereka, bahwa maggot berasal dari BSF yang aman serta tidak menularkan penyakit, mereka mulai antusias dan mengerti,” katanya. 

Untuk keberlanjutan program ini, nantinya program akan berlanjut melalui pendampingan pemerintahan desa dan pemuda setempat. Setiap posyandu akan terus memelihara bibit maggot dan mengelola hasilnya. Warga sekitar yang ingin melanjutkan budidaya secara mandiri, akan diberikan bimbingan teknis. Selain itu, pendampingan pembuatan kandang penangkaran juga disertakan. 

“Kami berharap program ini tidak hanya menjadi solusi jangka pendek. Harapannya program ini juga membawa perubahan berkelanjutan bagi masyarakat Desa Sambimulyo. Baik secara ekonomi dan lingkungan,” tutup Adrian. 

Penulis: Zahwa Najiba Putri Malika

Editor: Yulia Rohmawati