UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam program Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 menghadirkan program Aksi Recycling Olahan Minyak Jelantah menjadi Aroma Terapi (AROMA). Program ini berjalan di Desa Bajulan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Program ini berjalan sebagai upaya mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga. Luaran program ini adalah untuk memanfaatkan minyak jelantah menjadi produk yang bernilai guna.
Putri Nabila Ramadhani Daryanofa selaku Ketua Kelompok BBK 7 Universitas Airlangga Desa Bajulan menyampaikan bahwa program AROMA berangkat dari hasil survei awal yang tim lakukan di tengah masyarakat. Melalui survei dan pengamatan lapangan, tim menemukan bahwa pengelolaan limbah minyak jelantah rumah tangga di Desa Bajulan masih belum terkelola dengan baik.
AROMA Dorong Produktivitas Warga Desa Lewat Produk Inovatif
Sebelum pelaksanaan program AROMA, pengelolaan minyak jelantah rumah tangga di Desa Bajulan tidak memiliki sistem penanganan khusus. Alvira sebagai salah satu warga Desa Bajulan mengungkapkan minyak goreng bekas pakai dari aktivitas memasak sehari-hari umumnya langsung warga buang ke saluran air tanpa pengolahan. Kondisi tersebut mendorong tim BBK 7 Universitas Airlangga menghadirkan program AROMA sebagai solusi inovatif.
“Jumlah minyak yang masyarakat buang memang tidak banyak setiap hari. Tetapi karena berulang terus-menerus, kebiasaan ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan penyumbatan saluran air dalam jangka panjang,” tutur Nabila.
Rangkaian program AROMA berlangsung secara bertahap melalui penyuluhan dan praktik langsung bersama masyarakat. Khususnya ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Bajulan. Tim membuka kegiatan dengan sesi pembukaan dan ice breaking, lalu menyampaikan materi tentang minyak jelantah, dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan, serta tahapan pengolahannya menjadi lilin aromaterapi.
Antusiasme peserta terlihat jelas selama pelaksanaan edukasi dan praktik pembuatan aromaterapi. Peserta secara aktif mengikuti setiap tahapan kegiatan dan terlibat langsung dalam sesi diskusi maupun praktik. Lilik, sebagai salah satu peserta mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman dan pemahaman baru bagi peserta.
“Kami jadi paham bahwa minyak jelantah tidak harus dibuang karena bisa diolah menjadi aromaterapi yang bermanfaat dan mempercantik rumah. Saya juga senang karena kami terlibat langsung dalam praktik dan diskusi selama kegiatan,” ucap Lilik.
Lebih jauh, Masfida Ardana Putri selaku penanggung jawab program kerja AROMA menilai bahwa pengolahan minyak jelantah menjadi produk aromaterapi memiliki potensi keberlanjutan dari sisi lingkungan dan ekonomi. Ia berharap program AROMA dapat terus berjalan secara rutin dan melibatkan lebih banyak warga. Harapan tersebut agar mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan jangka panjang sekaligus menciptakan kegiatan produktif di Desa Bajulan.
“Produk aromaterapi ini tidak hanya bisa beguna untuk mempercantik rumah, tetapi juga berpotensi dijual kembali sehingga dapat menambah penghasilan warga,” jelas Masfida.
Penulis: Kania Khansa Nadhifa Kallista
Editor: Ragil Kukuh Imanto





