UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali membanggakan prestasi di kancah akademik internasional. Tiga mahasiswa UNAIR, yakni Ahmad Hasan Fitaihi, Mochammad Afif Ardiansyah, dan Muhammad Pandya Farrel Favian, menjadi delegasi UNAIR dalam ajang International Conference on Education, Language and Social Science for Students and Adult Learners (ELSA) 2025. Konferensi internasional tersebut terselenggara di Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Rabu (29/10/2025), dan diikuti oleh peserta dari berbagai negara.
Angkat Fenomena Zero-Sum Game dalam Pasar Kripto
Dalam konferensi tersebut, tim mempresentasikan riset berjudul Payoffs and Value Games in Cryptocurrency: A Mathematical Model Study of Zero-Sum Dynamics. Penelitian ini menyoroti perdebatan mengenai apakah pasar bitcoin bersifat zero-sum, yakni kondisi ketika keuntungan satu pihak menjadi kerugian bagi pihak lain.
Melalui pendekatan game theory dan ekonometrika, penelitian ini berusaha memberikan landasan ilmiah terhadap diskursus yang hingga kini masih ramai diperbincangkan di kalangan akademisi dan pelaku pasar.
Riset tersebut menganalisis data harga harian bitcoin selama 10 tahun, dari September 2015 hingga Agustus 2025. Dengan menggunakan model GARCH(1,1), tim menilai volatilitas sekaligus mengukur payoff bagi dua pelaku pasar yaitu trader dan investor jangka panjang. Hasilnya menunjukkan bahwa total payoff pasar cenderung mendekati nol, sehingga memperkuat argumentasi bahwa pasar bitcoin bersifat zero-sum.
Temuan Penelitian dan Makna bagi Publik
Penelitian tersebut menemukan bahwa tingginya volatilitas di pasar bitcoin membuat nilai perdagangan tidak menghasilkan peningkatan nilai riil secara signifikan. Muhammad Pandya Farrel Favian, selaku perwakilan tim, menegaskan bahwa keuntungan dalam pasar kripto pada dasarnya merupakan hasil redistribusi nilai antarpelaku.
“Berdasarkan model yang kami gunakan, keuntungan satu pihak pada umumnya bersumber dari kerugian pihak lain. Jika memperhitungkan volatilitas dan biaya transaksi, sebagian nilai justru hilang, sehingga praktiknya pasar dapat mengarah pada negative-sum,” jelas Favian.
Favian menambahkan bahwa temuan ini diharapkan mampu menjadi rujukan bagi masyarakat. Terutama bagi generasi muda, agar lebih memahami risiko sebelum berinvestasi. Menurutnya, literasi finansial menjadi kunci dalam menyikapi tren investasi digital.
“Banyak anak muda masuk ke dunia kripto hanya karena tren atau dorongan euforia. Padahal, pemahaman risiko sama pentingnya dengan potensi keuntungan,” ungkapnya.
Harapan dan Kontribusi Akademik
Keikutsertaan dalam konferensi internasional tersebut menjadi pengalaman akademik berharga bagi tim. Favian menyampaikan bahwa forum tersebut tidak hanya menjadi ruang berbagi hasil riset, tetapi juga membuka kesempatan berdiskusi dan bertukar perspektif dengan peserta dari berbagai negara.
“Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa UNAIR mampu berkontribusi dalam diskursus global mengenai isu-isu ekonomi modern. Termasuk aset digital yang kini berkembang pesat,” tuturnya.
Melalui partisipasi tersebut, tim berharap penelitian ini dapat terus berkembang dan dapat memberikan kontribusi pada kajian akademik maupun perumusan kebijakan terkait literasi keuangan digital. Kesuksesan tim UNAIR dalam ELSA Conference 2025 di UiTM Malaysia juga menjadi bukti komitmen UNAIR dalam mendorong mahasiswa untuk aktif berprestasi dan menghadirkan karya ilmiah yang relevan bagi masyarakat luas.
Penulis: Muhammad Afriza Atarizki
Editor: Yulia Rohmawati





