UNAIR NEWS – Sejarah kembali mencatat prestasi membanggakan Ksatria Airlangga dalam daftar prestasi di kancah internasional. Keberhasilan tersebut diraih oleh Nur Pratama Abdi Muhammad, mahasiswa S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR).
Abdi membawa pulang prestasi sebagai Most Outstanding Delegate dalam Asia – Pasific Model United Nations (AMUNC) 2018. Acara itu dihelat oleh University of New South Wales dan Model United Nations Student Association of Australia di Sydney, Australia, pada 8-13 Juli 2018.
AMUNC merupakan Konferensi Model United Nations tahunan terbesar di kawasan Asia-Pasifik. Dalam konferensi ini, para peserta bertidak sebagai delegasi berbagai negara dan organisasi international untuk berdiskusi dan debat serta menyusun resolusi mengenai isu-isu internasional.
Kegiatan yang dilakukan dikawasan Asia Pasifik tersebut diikuti lebih dari 500 peserta dari seluruh dunia, termasuk beberapa dari negara Eropa turut ambil bagian dalam perhelatan besar tersebut. Indonesia memberangkatan sekitar 50 orang sebagai delegasi yang mewakili beberapa kampus ternama.
Sebelum akhirnya terpilih menjadi delegasi, para peserta diwajibkan mendaftakan diri terlebih dahulu. Seleksi meliputi mengirimkan esai serta sertifikat bahasa Inggris TOEFL. Setelah terpilih, delegasi akan mendapatkan plotting ke negara yang harus mereka perankan. Terlepas dari mereka adalah delegasi Indonesia, namun harus berperan sesuai negara dan topik yang mereka dapatkan.
Abdi mengungkapkan, sebelum diberangkatkan ke Sydney, delegasi Indonesia mendapatkan pelatihan khusus tentang berberapa aspek penting, meliputi public speaking, leadership, riset, serta menulis formal.
Mahasiswa yang pernah meraih prestasi sebagai Runner Up of ICAEW National Business Case Competition 2017 yang diselenggarakan di Indonesia Stock Exchange beberapa waktu lalu ini menuturkan, kegiatan AMUNC tak lepas dari dukungan Beswan Djarum. Dari Beswan Djarum, mereka juga mendapatkan pembekalan intensif tentang gambaran simulasi MUN, simulasi sidang, hingga mengasah kemampuan debat para anggota delegasi.
Tak hanya itu, delegasi Indonesia juga berkesempatan berkunjung ke United Nation Information Centre di Jakarta untuk berdiskusi mengenai MUN dan isu-isu internasional yang sedang hangat saat ini.
Abdi melanjutkan, membawa nama besar UNAIR dan Indonesia bukan perkara mudah. Banyak yang harus dipersiapkan. Abdi juga merasa mendapat tantangan tersendiri lantaran baru saja menyelesaikan sidang skripsi beberapa waktu lalu. Ketika itu, pembekalan intensif yang harus Abdi jalani bertepatan dengan jadwal bimbingan dan sidang skripsinya.
Menurutnya, kemampuan manajemen waktu serta mengatur emosi menjadi skill yang harus dimiliki mahasiswa untuk menyelesaikan kewajiban dengan baik. Hal ini ia lakukan tak lain sebagai bentuk kontribusi nyata sebagai mahasiswa.
“Almamater tidak meminta materi sebagai bentuk kontribusimu sebagai mahasiswa selama kuliah. Maka yang bisa kamu berikan sebagai bentuk apresisasi serta kontribusimu pada almamater adalah dengan mengukir prestasi baik nasional maupun internasional,” pungkasnya. (*)
Penulis : Wiwik Yuni Eryanti Ningrum
Editor : Binti Q. Masruroh





