UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) terus menggenjot mobilitas mahasiswa di kancah internasional. Salah satunya adalah Kirani Bararah, mahasiswa fast track Fakultas Hukum (FH) UNAIR. Ia terlibat dalam Indonesia Energi Baru Terbaru Konservasi Conference and Exhibition (EBTKE ConEx) pada Rabu (12/7/2023) hingga Jumat (14/7/2023) di ICE BSD, Tangerang.
Acara yang dihelat oleh Indonesia Renewable Energy Society dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) Republik Indonesia (RI) itu bertujuan untuk menyoroti pentingnya peningkatan energi bersih dan berkelanjutan dalam bauran energi Indonesia demi mencapai Net Zero Emission 2060.
Pada hari pertama terdiri dari opening ceremony secara langsung bersama Menteri ESDM dan sambutan secara daring oleh Presiden RI, exhibition dari perusahaan di bidang energi, tandatangan MoU oleh para duta besar negara sahabat, dan conference para stakeholders sektor energi dari berbagai negara. Kehadiran mereka untuk meyakinkan para investor dalam menjawab tantangan Indonesia selaku perwakilan ASEAN menuju Net Zero Emissions 2060. Sedangkan untuk dua hari lainnya terdiri dari pelaksanaan exhibition, conference antar para delegasi, dan youth programme.
Negara berkembang akan mengalami tantangan yang kompleks dalam technology development dan pendanaan selama proses transisi energi. Sehingga, menurut Kirani, forum ini sangat penting untuk membahas komitmen pemerintah dengan para stakeholder terkait penerapan Nationally Determined Contribution (NDC) dan penyesuaian kebijakan EBT di Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emissions.

Kirani mengaku bahwa ia memiliki ketertarikan dalam mendalami sektor energi sejak keterlibatannya dalam proyek ASEAN Energy tahun lalu. Menurutnya, proses transisi energi menjadi salah satu langkah krusial yang dapat ditempuh oleh berbagai negara dalam mengurangi emisi karbon.
Gagas Peran Penting Perempuan
Dalam hal ini, Kirani selaku delegasi menggagas peran penting para perempuan dalam pembuatan keputusan di sektor energi. Gagasan tersebut berangkat dari maraknya gender inequality dalam sektor energi karena pekerjaan tersebut masih melekat dengan stereotipe untuk lelaki saja.
“Kalau kita perhatikan hampir 68 persen pembuat kebijakan di sektor energi adalah laki-laki. Sedangkan 32 persen perempuan yang terlibat mayoritas ditempatkan di bidang administratif. Padahal, potensi perempuan dalam mewujudkan transisi energi sangat besar,” terang Kirani perihal topik pada gelaran conference and exhibition itu.
Menurut Kirani, perempuan harus aktif berpartisipasi sebagai decision maker. Mengingat perempuan berpotensi mewujudkan no one left behind dalam keluarga. Sehingga, keterlibatan perempuan dalam sektor energi dapat mengakomodir pengurangan kerentanan terhadap perempuan.
“Mengutip dari Draft Pengarusutamaan Gender di lingkup Kementerian ESDM, keterlibatan perempuan di sektor energi sebagai stepping stone pertama. Dengan melibatkan para perempuan, hal ini akan mempercepat terwujudnya target transisi energi yang berkelanjutan dan lebih bersih,” ujar mahasiswa FH UNAIR itu.
“Transisi energi ini menjadi sentral dalam mencapai agenda SDGs 2030. Sehingga harapannya setelah mengikuti kegiatan ini aku bisa semakin mendalami terkait transisi energi dan bisa mengedukasi masyarakat terkait urgensi transisi energi,” pungkas mahasiswa FH UNAIR pada akhir sesi wawancara. (*)
Penulis: Aidatul Fitriyah
Editor: Binti Q Masruroh





