UNAIR NEWS – Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jepang (Basasjep) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi di kancah nasional. Kali ini, Azizah Dinda Ihsanningtyas berhasil meraih juara III dalam lomba Pidato Bahasa Jepang ke-20 tingkat nasional kategori perguruan tinggi.
Kompetisi tersebut terselenggara atas kerja sama Universitas Takushoku, Universitas Darma Persada (UNSADA), dan Persada. Acara berlangsung sejak Juli hingga Agustus, dengan puncak kegiatan pada Sabtu (13/9/2025) di Gedung Grha Wira Bakti, UNSADA, Jakarta.
Uji, sapaan akrabnya, mengaku awalnya mendapat tawaran dari dosen Basasjep mengenai perlombaan ini. Merasa tak ada salahnya mencoba, ia pun memberanikan diri untuk ikut. Menurutnya, selain untuk menambah pengalaman baru, ia melihat kesempatan ini sebagai momen untuk melatih keberaniannya.
“Aku kurang percaya diri untuk berbicara di depan banyak orang, terlebih menggunakan bahasa Jepang. Jadi aku ingin mencoba menantang diri sendiri,” imbuhnya.
Mengangkat Pengalaman Pribadi
Kategori perguruan tinggi tahun ini mengusung tema Hidup Berdampingan dengan AI: Tantangan dan Pemanfaatan AI dalam Belajar Bahasa dan Budaya Jepang. Di bawah bimbingan Dhaniswari Ananta Ayu SHum MHum serta Katsuhama Michiko, sukarelawan pengajar Japan International Cooperation Agency (JICA) yang bertugas di prodi Basasjep, Uji mengangkat pengalaman pribadinya menggunakan akal imitasi (AI) sebagai alat bantu belajar Bahasa Jepang.

“Aku menulis pengalamanku ketika pakai AI. Seperti memperbaiki tata bahasa, menerjemahkan, atau mengoreksi kesalahan grammar. Sensei ingin aku menggunakan bahasa Jepang yang mudah dimengerti dan diingat. Jadi aku harus benar-benar mengerti apa yang aku sampaikan,” jelasnya.
Adapun proses penyusunan naskah memakan waktu kurang lebih satu bulan, terhitung sejak Agustus. Hingga akhirnya ia berhasil lolos seleksi naskah sepuluh besar nasional. Setelahnya, Uji menjalani latihan intensif selama dua minggu. Mulai dari belajar intonasi, ekspresi, hingga teknik menguasai panggung.
Pengalaman Perdana Lomba
Pada hari pelaksanaan lomba, Uji mendapat giliran tampil sebagai peserta pertama. Kendati sempat gugup, ia berhasil menyampaikan pidatonya dengan baik. Karena mengangkat pengalaman pribadi, Uji pun lebih mudah menjawab pertanyaan dari para juri.
Bagi Uji, keberhasilannya tidak lepas dari dukungan para dosen yang sabar membimbing dan memberi masukan. “Dari awal, sensei sudah banyak membantu. Naskah, intonasi, mimik muka, dan kesalahan lainnya benar-benar dikoreksi. Sensei juga sangat responsif kalau aku bertanya,” tuturnya.
Prestasi ini menjadi pengalaman perdana Uji dalam mengikuti lomba pidato. Keberhasilan tersebut membuatnya bangga karena berhasil menaklukkan ketakutannya sendiri. Ke depan, ia berharap pengalaman ini dapat memotivasinya untuk terus mencoba kompetisi serupa atau lainnya.
“Nggak ada salahnya untuk mencoba, karena aku pun awalnya hanya coba-coba. Kita nggak bisa menduga bagaimana hasil akhirnya, yang penting adalah proses. Jadi semisal belum menang, it’s okay. Nomor satu adalah pengalaman dan relasi,” pungkasnya.
Penulis: Fania Tiara Berliana M
Editor: Yulia Rohmawati





