UNAIR NEWS – Tim mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HI) Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil menorehkan prestasi. Mereka adalah Jaudah Dahlia Saldi, Ghozy Aulia Hanafi, dan Muhammad Aditya Saputra. Tim ini berhasil meraih posisi kedua dalam kompetisi debat bertajuk “Legal Critique” yang digelar oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) pada Sabtu (8/11/2025).
Lomba debat “Legal Critique” kali ini mengusung tema “Membedah Aspirasi, Membongkar Manipulasi”. Tema lomba ini menekankan analisis kritis mengenai klaim aspirasi rakyat dan potensi manipulasi yang telah elit politik lakukan. Tema besar “17+8 sebagai manuver elit politik atas nama aspirasi rakyat!” mengajak peserta untuk mengkritisi bagaimana elit politik sering memanfaatkan klaim aspirasi rakyat demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Selain itu, tema ini juga menyoroti peran hukum dalam mengidentifikasi dan mengatasi potensi manipulasi dalam politik.
Perjalanan Tim dalam Lomba Debat
Meski awalnya sempat ragu untuk berpartisipasi, mengingat mereka baru saja memasuki kehidupan sebagai mahasiswa baru (maba), tim HI UNAIR akhirnya memutuskan untuk mengikuti lomba di hari terakhir pendaftaran.
“Awalnya, kami sempat tarik ulur apakah akan ikut lomba ini atau tidak, karena kami masih menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus sebagai maba. Namun, karena tertarik dengan tema yang diusung, kami memutuskan untuk ikut di hari terakhir pendaftaran,” ujar Jaudah Dahlia Saldi, salah satu perwakilan tim.
Proses seleksi lomba berlangsung secara online, dengan peserta mengikuti sesi debat di gazebo taman kampus pada hari Sabtu. Setelah melewati seleksi ketat, tim HI UNAIR berhasil lolos ke babak final. Mereka bersaing dengan tim-tim unggulan dari universitas lain, seperti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
“Awalnya, kami cukup kaget karena harus menghadapi lawan-lawan yang sudah berpengalaman. Mereka adalah kakak-kakak dari semester 7, semester 5, serta beberapa mahasiswa baru (maba) dari universitas lain,” tambah Jaudah.
“Kesannya mungkin lebih terasa tekanan karena ini pertama kali kami ikut lomba sebesar ini. Namun, kami tetap berusaha untuk terus maju karena sudah sampai ke babak final. Kami memutuskan untuk tetap lanjut dan memberikan yang terbaik, meskipun kami belum tahu apa hasilnya nanti,” lanjut Jaudah.
Menghadapi Tantangan dalam Lomba
Proses lomba yang berlangsung di tengah suasana yang ramai dan terkadang tidak kondusif menjadi tantangan tersendiri bagi tim UNAIR, terutama saat babak penyisihan. Namun, meskipun menghadapi berbagai kendala, mereka tetap menunjukkan dedikasi dan kemampuan analisis yang tajam. Mereka juga berhasil mempertahankan fokus dalam setiap sesi debat.
“Selain tantangan dari suasana yang ramai di kampus, mosi yang diberikan kadang menjatuhkan dan tidak seimbang,” ujar Jaudah.
Keberhasilan tim HI UNAIR meraih posisi kedua ini tentu menjadi buah dari kerja keras dan semangat pantang menyerah. “Alhamdulillah, kami berhasil mendapatkan posisi kedua,” ujar Jaudah, menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian yang ia raih.
Keberhasilan tim HI UNAIR meraih posisi kedua tidak hanya mencerminkan kemampuan akademik mereka, tetapi juga merupakan bukti komitmen mereka dalam berpikir kritis dan berkontribusi terhadap perdebatan penting seputar isu politik dan hukum di Indonesia. Meskipun masih terbilang baru sebagai mahasiswa, mereka telah menunjukkan keberanian untuk bersaing di level tinggi dan menghadapi tantangan yang tidak mudah
Penulis : Saffana Raisa Rahmania
Editor : Ragil Kukuh Imanto





