UNAIR NEWS – Mahasiswa Program Studi D4 Teknologi Laboratorium Medik (TLM) Universitas Airlangga (UNAIR), beranggotakan enam orang melaksanakan kegiatan magang di Laboratorium RS PHC Surabaya. Selama dua bulan, mahasiswa TLM UNAIR mempelajari berbagai bidang. Antara lain kimia klinik, hematologi, imunologi, mikrobiologi klinik, dan patologi anatomi. Dalam bidang hematologi mahasiswa memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru terkait layanan PRP dan ikut berperan dalam proses pembuatan Platelet-Rich Plasma (PRP).
Rumah Sakit PHC Surabaya menyediakan layanan PRP sebagai salah satu terapi modern untuk membantu penyembuhan jaringan, mempercepat regenerasi sel, dan mengurangi rasa nyeri. Prosedur ini tidak hanya melibatkan dokter sebagai tenaga medis utama, tetapi juga menempatkan ATLM (Ahli Teknologi Laboratorium Medik) sebagai bagian penting dalam menentukan kualitas plasma yang digunakan.
Di RS PHC Surabaya, ATLM menjadi salah satu profesi yang memiliki peran utama dalam proses persiapan bahan terapi PRP. Sejak awal pengambilan darah hingga menghasilkan plasma siap pakai, setiap langkah berada dalam kendali dan tanggung jawab para ATLM.
Tahap awal yang dilakukan dalam pengambilan sampel PRP disebut pre-analitik. Yaitu fase persiapan sebelum darah mengalami proses. Di sinilah ketelitian dan kehati-hatian sangat perlu. Sebelum melakukan pengambilan darah ATLM melakukan identifikasi identitas pasien terlebih dahulu. Seorang ATLM harus memastikan bahwa seluruh peralatan dari jarum suntik, tabung darah khusus PRP, hingga mesin centrifuge berada dalam kondisi steril. Kesalahan sekecil apa pun pada tahap ini bisa berdampak pada hasil dan kualitas plasma.
Setelah tahap pre-analitik, selanjutnya adalah tahap analitik. Tahap analitik dimulai dari pasien menjalani pengambilan darah dengan volume darah 11 ml menggunakan tabung khusus PRP. Tahap berikutnya, yaitu proses pengolahan darah. Sampel darah akan disentrifugasi dengan kecepatan tinggi (sekitar 3000 rpm) selama 10 menit, untuk memisahkan plasma dengan sel darah merah. Plasma yang berada di lapisan atas kemudian dipindahkan ke tabung baru, lalu di-vortex untuk memastikan homogenisasi.
Namun proses belum berhenti di sana. Plasma hasil dari proses masih harus melalui tahap filtrasi, yang berfungsi memisahkan platelet-poor plasma (PPP) dari platelet-rich plasma (PRP) sebagai komponen utama yang akan digunakan dalam terapi. Hasil akhir berupa cairan berwarna kekuningan pekat dan kaya akan trombosit.
Tahap terakhir disebut post-analitik, yakni penyerahan PRP yang sudah diproses kepada dokter untuk digunakan dalam tindakan klinis. ATLM akan memastikan bahwa plasma dalam kondisi optimal, steril, dan sesuai dengan kebutuhan pasien.
Dengan adanya layanan PRP di RS PHC Surabaya, pasien memiliki alternatif terapi modern yang efektif untuk membantu proses pemulihan, baik pada kasus cedera otot, perawatan kulit, maupun kondisi medis lainnya. Sinergi antara dokter dan ATLM menjadi kunci keberhasilan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.
Dari balik laboratorium, ATLM berkontribusi besar terhadap pemantauan pasien. Dan melalui prosedur seperti PRP ini, terlihat jelas bahwa profesi ATLM bukan sekadar “pemeriksa sampel”, melainkan bagian dari keberhasilan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Penulis: Mahasiswa TLM UNAIR
Editor: Yulia Rohmawati





