Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa UNAIR Ajak Anak Pesisir Berkreasi, Ubah Limbah Plastik jadi Pot Tanaman Kreatif

Anak-anak Pulau Rinca berfoto bersama relawan pengabdian dari Divisi Sosial dan Lingkungan Yayasan BARAKARSA Indonesia usai kegiatan Pot Upcycle di Desa Wisata Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (28/6/2025) (Foto: Dokumentasi Tim Pengabdian)
Anak-anak Pulau Rinca berfoto bersama relawan pengabdian dari Divisi Sosial dan Lingkungan Yayasan BARAKARSA Indonesia usai kegiatan Pot Upcycle di Desa Wisata Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (28/6/2025) (Foto: Dokumentasi Tim Pengabdian)

UNAIR NEWS – Puluhan anak-anak Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur, belajar menjaga lingkungan dengan cara unik. Lewat kegiatan bertajuk Pot Upcycle pada Sabtu (28/6/2025), mereka diajak mendaur ulang botol plastik menjadi pot tanaman kreatif. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat oleh Yayasan Bakti Berkarya untuk Bangsa (BARAKARSA) Indonesia dan melibatkan relawan dari berbagai daerah. Termasuk mahasiswa S2 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Asriani Muflihah.

Program ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran peduli lingkungan sejak usia dini. Anak-anak belajar mengenali jenis sampah, memahami konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), dan langsung mempraktikkannya melalui kerajinan tangan.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu soal sampah, tapi juga bisa membuat sesuatu yang bermanfaat dari yang semula dianggap limbah,” ujar Asriani yang juga menjadi perwakilan kelompok pengabdian Divisi Sosial dan Lingkungan (Sosling).

Tim relawan pengabdian dari berbagai daerah berfoto bersama di dermaga Desa Wisata Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, sebelum pelaksanaan kegiatan Pot Upcycle, Jumat (27/6/2025) (Foto: Dokumentasi Tim Pengabdian)
Tim relawan pengabdian dari berbagai daerah berfoto bersama di dermaga Desa Wisata Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, sebelum pelaksanaan kegiatan Pot Upcycle, Jumat (27/6/2025) (Foto: Dokumentasi Tim Pengabdian)

Kegiatan dimulai sehari sebelumnya dengan aksi bersih pantai. Anak-anak bersama relawan mengumpulkan botol air mineral, kerang, dan pasir yang kemudian digunakan sebagai bahan utama pot upcycle. Pada hari pelaksanaan, peserta mengikuti empat sesi, yakni pre-test, edukasi, post-test, dan praktik membuat pot. “Kami sangat terkesan dengan antusiasme mereka. Bahkan anak-anak yang awalnya malu, jadi semangat menghias pot miliknya sendiri,” kata Asriani.

Hasil post-test menunjukkan adanya peningkatan pemahaman anak-anak terhadap isu lingkungan. Edukasi ini juga menyasar aspek keberlanjutan dengan pendekatan menyenangkan. Program ini memberikan tiga luaran utama, yaitu peningkatan literasi lingkungan, karya pot kreatif dari limbah plastik, dan data untuk publikasi ilmiah. “Artikel ini sedang kami susun sebagai bentuk tanggung jawab ilmiah dari program pengabdian,” tambahnya.

“Kami juga sedang menyusun publikasi ilmiah yang berfokus pada analisis data pre-test dan post-test anak-anak. Tujuannya untuk melihat sejauh mana edukasi yang diberikan mampu meningkatkan pemahaman mereka tentang isu lingkungan,” jelas Asriani.

Ia menambahkan, meskipun data masih dalam proses penginputan, publikasi tersebut akan memuat deskripsi kegiatan, pendekatan edukatif, serta hasil pengukuran pengetahuan peserta sebelum dan sesudah sesi edukasi. “Harapannya, artikel ini bisa menjadi rujukan akademik sekaligus memperkuat luaran pengabdian yang tidak hanya berhenti di kegiatan lapangan,” tambahnya.

Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDG 14 (Ekosistem Lautan). Melalui praktik daur ulang, anak-anak belajar mengelola limbah plastik secara bijak dan mengubahnya menjadi barang berguna.

Sementara itu, aksi bersih pantai membantu mengurangi potensi pencemaran laut, mengedukasi masyarakat, dan menjaga kawasan pesisir dari dampak limbah. “Pulau Rinca punya potensi alam luar biasa, tapi tantangan soal sampah masih besar. Edukasi kepada anak-anak adalah investasi jangka panjang agar perubahan bisa tumbuh dari komunitas itu sendiri,” tutup Asriani.

Penulis: Samudra Luhur Pambudi

Editor: Yulia Rohamwati