UNAIR NEWS – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan pelatihan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) sejak usia 12 tahun sebagai bekal menghadapi situasi darurat. Melihat persoalan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) 6 Universitas Airlangga menyelenggarakan edukasi bantuan hidup dasar (CPR) dan pertolongan tersedak. Kegiatan edukasi bertajuk SUPER HERO – Siaga Usaha Pertolongan Kesehatan Segera 1.0 ini berlangsung pada Rabu (23/7/2025).
Kegiatan ini menyasar siswa kelas enam SDN Sidorejo 01, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Rinda Purnama Sari mahasiswa program studi keperawatan menyampaikan edukasi bantuan dasar hidup penting untuk dipelajari semua orang.
“Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan hal yang penting untuk dipelajari setiap orang bukan hanya orang dengan latar belakang medis, tetapi orang awam pun harus mengetahui tentang BHD ini, terutama anak usia dini,” ucap Rinda.
Fokus Melatih Siswa Saat Kondisi Gawat Darurat
Kegiatan edukasi berfokus pada anak-anak terutama siswa kelas enam sekolah dasar karena mereka merupakan kelompok rentan saat terjadi keadaan gawat darurat. Melalui kegiatan edukasi, tim berharap anak-anak dapat mengetahui dan menerapkan ilmu kegawatdaruratan seperti resusitasi jantung paru dan penanganan tersedak.
“Anak-anak termasuk kelompok rentan saat darurat, jadi penting bagi mereka memahami dan bisa menerapkan CPR serta penanganan tersedak. Di negara maju, edukasi ini sudah diberikan sejak usia sekolah, dan itu yang ingin kami terapkan juga,” ujar Rinda.
Sebagai bentuk persiapan, tim melakukan observasi secara langsung dengan mewawancarai para guru untuk memahami permasalahan dan konsultasi materi yang akan disampaikan. Salah satu tantangan yang hadir adalah memastikan agar isi siswa dapat mudah memahami materi. Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim menggunakan lagu sebagai media praktik.
“Tantangan utamanya adalah menyesuaikan tingkat materi dengan usia anak. Kami akhirnya menggunakan lagu Baby Shark untuk membantu anak-anak memahami tempo pijat jantung,” jelas Rinda.
Respon dan Harapan bagi Siswa
Guru dan siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi atas kegiatan edukasi yang berlangsung. Hal ini terlihat dari beberapa siswa yang aktif bertanya dan berani untuk melakukan simulasi langsung. Meski belum sempurna, mereka tampak optimis dan mampu mengikuti setiap langkah dengan baik.
Selain melaksanakan edukasi, tim melakukan evaluasi dengan memberikan post test berupa pengisian kuesioner. Pembuatan pertanyaan kuesioner berdasarkan materi yang sudah diberikan, dan kuesioner menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa secara signifikan dengan 91,4 persen siswa memperoleh kategori memahami materi secara sangat baik.
Sebagai penutup, tim dan pihak sekolah menyampaikan harapan agar edukasi ini mampu siswa realisasikan dalam kehidupan nyata. Pihak sekolah juga menyambut baik kegiatan ini, karena materi kegawatdaruratan masih jarang siswa terima. Mereka berharap ilmu yang siswa terima tidak hanya bermanfaat pribadi, tetapi juga dapat mereka bagikan kepada keluarga dan masyarakat sekitar.
“Kami berharap siswa kelas 6 bisa menerapkan materi ini saat menghadapi kondisi gawat darurat, dan membagikannya ke lingkungan sekitar agar tidak selalu bergantung pada tenaga medis apabila ditemui kondisi yang sama,” pungkas Rinda.
Penulis: Kania Khansanadhifa Kallista
Editor: Ragil Kukuh Imanto





