UNAIR NEWS – Inriza Yuliandari, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi, mengikuti program The 9th Nganget International Work Camp (NIWC) 2018 pada Kamis (6/9) yang diadakan Leprosy Care Community Indonesia (LCCI). Yakni, komunitas peduli kusta Indonesia.
Leader LCC 2018 Putu Arya General mengungkapkan, LCC Indonesia merupakan sebuah komunitas sosial yang peduli pada diskriminasi terhadap penyakit kusta dan orang yang pernah mengalami kusta. Misinya adalah untuk mengurangi diskriminasi kepada orang yang pernah mengalami kusta. Yakni, melalui pencerdasan dan pemberdayaan masyarakat dengan cara kekeluargaan.
”Satu program unggulannya adalah Nganget International Work Camp (NIWC) dan Donorejo International Work Camp (DIWC). NIWC berlokasi di Dusun Nganget, Tuban, Jawa Timur, sedangkan DIWC berlokasi di Donorejo, Jepara, Jawa Tengah. Keduanya merupakan lokasi kampung rehabilitasi kusta,” lanjutnya.
Inriza menuturkan, kegiatan The 9th NIWC 2018 kali itu mengusung tema ”Break The Chain Make A Change”. Sebanyak 30 volunteer mahasiswa dari Jepang dan Indonesia yang memiliki komitmen dan motivasi tinggi dilibatkan.
Mereka juga dipilih karena memiliki komitmen bersedia berinteraksi dengan orang yang pernah mengalami kusta. Kegiatan tersebut dialukan selama dua minggu, mulai Senin (13/8) sampai Senin (26/8). Tujuannya adalah mengurangi diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta.
”Warga di sini memilih tinggal di Nganget sejak terdiagnosis mengalami kusta. Alasannya, ketika mereka tinggal dilingkungannya rata-rata merasa dikucilkan. Mereka dipandang sebelah mata karena kusta dianggap sebagai penyakit kutukan dan menular,” ujar Inriza.
”Tak sedikit pula yang dibuang keluarganya karena malu dan tidak bisa menerima kondisinya saat ini. Hampir semua dari mereka merasa lebih nyaman tinggal berlama di Nganget. Bahkan hingga akhir hayatnya, mereka merasa lebih diterima di sini disbanding harus kembali ke kampung asalnya,” tambahnya.
Padahal, menurut Inriza, dari sisi kesehatan, penularan kusta atau lepra tidaklah mudah. Bakteri Mycoobacterium leprae butuh waktu enam bulan hingga 40 tahun untuk berkembang dalam tubuh manusia.
Tanda dan gejala kusta muncul 1 hingga 20 tahun setelah bakteri menginfeksi tubuh. Bersentuhan langsung dengan kulit penderita kusta tidaklah menularkan penyakit. Jadi, tak sepatutnya masyarakat mengucilkan eks penderita kusta.
Saat ini Indonesia sudah memiliki beberapa rumah sakit bagi penderita kusta. Pengobatannya pun gratis ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.
Kami sempat melakukan homevisit ke rumah-rumah eks kusta di Nganget. Rata-rata yang tinggal di kampung kusta adalah para lansia. Mereka sangat ramah, humble, dan jiwa sosialnya sangat tinggi.
”Selama di sana, kami sering diberi makanan hasil panen mereka seperti singkong, pisang, jagung, manga, dan papaya,” ungkapnya.
”Padahal tidak setiap hari mereka makan nasi, hanya mengandalkan hasil panen dan dana donatur dari panti. Kami juga membangunkan akses ke makam di lingkungan mereka dalam program work. Setiap tahunnya ada work project dari LCC untuk mereka,” imbuhnya. (*)
Penulis: Siti Mufaidah
Editor: Feri Fenoria Rifa’I





