Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa UNAIR Berdayakan Masyarakat Desa German Untuk Membudidayakan Maggot

Mahasiswa KKN BBK 7 Universitas Airlangga melakukan demonstrasi pembibitan maggot dan disaksikan langsung oleh warga dalam program MAGER SIRAM di Balai Desa German, Senin (26/1/2026). (Foto: Dok. Pribadi)
Mahasiswa KKN BBK 7 Universitas Airlangga melakukan demonstrasi pembibitan maggot dan disaksikan langsung oleh warga dalam program MAGER SIRAM di Balai Desa German, Senin (26/1/2026). (Foto: Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga melalui mahasiswa KKN BBK 7 Desa German menggelar sosialisasi dan demonstrasi Program MAGER SIRAM (Maggot German Siap Urai Sampah) di Balai Desa German, Kecamatan Sugio, Lamongan, Senin (26/1) pukul 19.30 WIB. Kegiatan yang menyasar 20 warga (PKK, Karang Taruna, dan perangkat desa) ini menjadi solusi Kampus Berdampak mengatasi pengelolaan sampah organik rumah tangga (SDG 11 – Sustainable Cities and Communities).

Permasalahan utama yang dihadapi warga Desa German adalah akumulasi sampah organik dari sisa makanan, sayur, dan kulit buah yang mencapai 50% total sampah rumah tangga. Sampah ini sering dibakar atau dibuang langsung sehingga menimbulkan bau, lalat, dan pencemaran lingkungan. Sebagai respons, mahasiswa Universitas Airlangga memperkenalkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) yang mampu mengurai sampah organik dalam 24 jam di skala rumah tangga.

Kegiatan mencakup pemaparan siklus hidup BSF, demonstrasi kandang dari biopon plastik, dan praktik langsung penebaran bibit maggot pada media dedak. Peserta dilatih teknik pemeliharaan harian agar bebas bau dan panen maggot sebagai pakan ternak protein tinggi.

Ibu Eka Zuanita, selaku Ibu Kepala Desa German memberikan apresiasi: “Untuk budidaya maggotnya juga keren. Mungkin anak-anak muda nanti yang bisa berkarya dan mau membudidayakannya karena keuntungannya juga lumayan bagus untuk menambah nilai ekonomi. Kemudian dampaknya ke lingkungan juga bagus karena tidak seperti lalat hijau yang bisa menyebarkan berbagai macam penyakit, namun lalat hitam ini sebaliknya. Bagus kok, bagus. Ibu senang dan berharap semoga apa yang kalian upayakan bisa berdampak positif dan semoga bisa berkelanjutan di kemudian hari”.

Dampak nyata dari kegiatan ini adalah pengurangan limbah rumah tangga dan produksi kasgot (pupuk organik) dari residu penguraian. Pasalnya, maggot BSF dapat mengurai sampah organik sehingga volume limbah organik rumah tangga turun hingga 70%, lingkungan desa menjadi lebih bersih, dan residu sampah yang tersisa dapat diolah menjadi kasgot pupuk organik untuk mendukung pertanian lokal yang ramah lingkungan.

Penanggung Jawab Program, Ryan Fariski, menegaskan: “MAGER SIRAM mengubah paradigma bahwa sampah bukanlah masalah, tapi aset lingkungan dan ekonomi”. Program ini melanjutkan program PISAN (Pilah Sampah Organik dan Anorganik) dan TAKOSA (Takakura dan Kompos Sampah Organik), menjadikan Desa German menuju desa zero waste yang berkelanjutan.

Penulis: Rafa Laila