Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa UNAIR Kenalkan JATIRA, Angkat Potensi Ekonomi Desa Jejel

Mahasiswa Universitas Airlangga bersama perangkat Desa Jejel saat sosialisasi program JATIRA: Jamur Tiram Berkarya. (Foto : Tim BBK-6 Desa Jejel)
Mahasiswa Universitas Airlangga bersama perangkat Desa Jejel saat sosialisasi program JATIRA: Jamur Tiram Berkarya. (Foto : Tim BBK-6 Desa Jejel)

UNAIR NEWS – Mahasiswa KKN-BBK 6 Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan program pengabdian masyarakat bertajuk JATIRA: Jamur Tiram Berkarya, di Desa Jejel, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto pada Senin (28/7/2025). Program itu merupakan inisiatif pengembangan ekonomi kreatif berbasis lingkungan melalui budidaya jamur tiram sebagai alternatif sumber penghasilan masyarakat.

Rahmad Rafli, Ketua Tim BBK-6 Desa Jejel, menyampaikan bahwa Program JATIRA hadir sebagai respons terhadap kondisi perekonomian warga Desa Jejel yang mayoritas bekerja sebagai petani tembakau. Dalam beberapa waktu terakhir, proses pengeringan tembakau mengalami kendala akibat cuaca yang tidak menentu dan curah hujan yang tinggi, sehingga berdampak pada ketidakstabilan penghasilan warga. Melalui budidaya jamur tiram yang ramah lingkungan, mudah dilakukan, dan memiliki nilai konsumsi maupun ekonomi, program ini diharapkan menjadi solusi yang berkelanjutan.

“Melihat tantangan yang dihadapi masyarakat, kami ingin menghadirkan solusi yang berkelanjutan dan mudah diterapkan. Budidaya jamur tiram kami pilih karena ramah lingkungan, bernilai ekonomi, dan bisa dilakukan dalam skala rumahan,” ujarnya.

Pelaksanaan program dimulai dengan sosialisasi manfaat dan potensi budidaya jamur tiram kepada warga, dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan media tanam (baglog), perawatan, hingga panen. Tim pelaksana juga membangun kumbung jamur mini sebagai tempat budidaya dengan melibatkan warga secara langsung dalam proses konstruksi dan perawatannya.

Salah satu inovasi dalam program JATIRA adalah penggunaan galon bekas sebagai media tanam pengganti plastik biasa. Inovasi ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mendukung prinsip ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah plastik menjadi wadah produktif dan berkelanjutan.

“Kami berupaya memanfaatkan barang-barang bekas agar tidak hanya mengurangi limbah, tapi juga bisa menghasilkan manfaat ekonomi. Galon bekas kami gunakan sebagai wadah baglog jamur tiram, dan hasilnya cukup efektif,” jelas Rahmad.

Respon masyarakat terhadap program JATIRA sangat positif. Warga antusias mengikuti sosialisasi hingga praktik budidaya, bahkan mulai tertarik membudidayakan jamur tiram secara mandiri sebagai konsumsi maupun usaha rumahan. Gotong royong saat pembangunan kumbung jamur juga menunjukkan partisipasi aktif mereka.

Meski demikian, kurangnya pengalaman warga menjadi tantangan, terutama dalam menjaga kelembapan dan mengenali fase pertumbuhan jamur. “Kami terus dampingi warga agar proses budidaya berjalan optimal,” tambahnya.

Ke depan, program ini diharapkan mendorong kemandirian ekonomi, mengurangi ketergantungan pada tembakau, serta dapat direplikasi di desa lain dengan dukungan berbagai pihak.

Penulis: Dheva Yudistira Maulana

Editor: Khefti Al Mawalia