UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) melalui program BBK 7 International melaksanakan survei kesiapsiagaan bencana di Shizuoka Prefecture, Jepang. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (31/1/2026) hingga Senin (2/2/2026). Survei dilaksanakan di tiga kota, yakni Yaizu City, Fuji City, dan Kakegawa City.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman lintas budaya antara Indonesia dan Jepang serta bertukar informasi mengenai mitigasi bencana. Shizuoka dikenal sebagai wilayah rawan gempa bumi dan tsunami. Melalui survei tersebut, mahasiswa menggambarkan tingkat kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana alam.
Perilaku Kesiapsiagaan Pemilik Hewan Peliharaan
Kelompok 2 BBK 7 Internasional UNAIR terbagi menjadi dua sub kelompok dengan fokus berbeda. Kelompok 2A mengangkat topik perilaku kesiapsiagaan pemilik hewan peliharaan. Sementara itu, Kelompok 2B meneliti persiapan perlengkapan darurat rumah tangga dalam pencegahan bencana.
Kelompok 2A diwakili Kyandra Kano, menjelaskan latar belakang pemilihan topik tersebut. “Kami melihat banyak warga Shizuoka beraktivitas bersama hewan peliharaan mereka, sehingga kesiapsiagaan tidak hanya menyangkut manusia tetapi juga hewan,” ujarnya. Selain itu mereka ingin mengetahui sejauh mana pemilik hewan memahami prosedur evakuasi resmi saat terjadi bencana.
Menurut Kyandra, hewan peliharaan di Jepang kerap diposisikan sebagai bagian dari keluarga. Namun, kesiapan pemilik dalam situasi darurat belum tentu merata. “Survei ini membantu kami mengidentifikasi apakah terdapat kesenjangan antara pedoman mitigasi dan praktik di lapangan,” jelasnya.
Temuan tersebut dinilai relevan bagi Indonesia yang juga rawan bencana. Di Indonesia, mitigasi masih cenderung berfokus pada keselamatan manusia. Kajian mengenai kesiapsiagaan hewan peliharaan dinilai dapat menjadi pembelajaran penting untuk strategi mitigasi yang lebih inklusif.
Emergency Kit Rumah Tangga
Sementara itu, Narasumber Kelompok 2B, Muhammad Syamil, menyoroti pentingnya emergency kit rumah tangga. “Keberadaan perlengkapan darurat di setiap rumah menjadi faktor kunci dalam mengurangi risiko saat bencana terjadi,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa bantuan tidak selalu langsung mencukupi kebutuhan primer saat terjadi bencana besar.
Dalam pelaksanaan survei, mahasiswa melakukan wawancara langsung di ruang publik. Pada hari pertama, mereka menghadapi kendala bahasa dan beberapa penolakan responden. Evaluasi kemudian dilakukan dengan menyiapkan skrip wawancara berbahasa Jepang dan menerapkan pendekatan komunikasi yang lebih persuasif.
Perbaikan strategi tersebut membuahkan hasil pada hari kedua. Proses pengumpulan data berjalan lebih lancar dan masyarakat menunjukkan sikap terbuka. “Kami belajar bahwa sensitivitas budaya dan komunikasi yang tepat sangat mempengaruhi keberhasilan kegiatan lapangan,” ujar Syamil.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga memahami budaya kesiapsiagaan masyarakat Jepang. Hasil survei diharapkan menjadi bahan pembelajaran bersama bagi Indonesia dan Jepang dalam memperkuat mitigasi bencana berbasis komunitas. Pengalaman tersebut sekaligus mempertegas peran mahasiswa UNAIR dalam mendukung terciptanya masyarakat yang lebih tangguh terhadap bencana di tingkat global.
Penulis: Rizma Elyza
Editor: Yulia Rohmawati





