UNAIR NEWS – Luka mudah sekali terkontaminasi oleh kuman. Salah satunya adalah Staphylococcus auerus, yaitu kuman atau bakteri yang normal ada di kulit dan hidung manusia. Bahayanya apabila bakteri ini masuk ke tubuh melalui luka terbuka dan menyebabkan infeksi pada daya tahan tubuh yang lemah.
Berangkat dari masalah ini, lima mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Safira Rahma (2015), Nur Moya Isyroqiyyah (2015), Safira Nur Ainiyah (2015), Nur Sophia Matin (2015), dan Salsabila Zahra Prasetya (2016) mengadakan penelitian terhadap hewan coba untuk mengatasi pertumbuhan bakteri MRSA menggunakan ekstrak daun putri malu. Seperti yang kita tau bahwa daun putri malu hanya menjadi semak belukar dan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat.
Penelitian ini dituangkan dalam proposal pada Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) dengan judul “Studi in Vivo Ekstrak Daun Putri Malu (Mimosa pudica L.) sebagai Bahan Alternatif Antibakteri pada Kasus Infeksi Luka Terbuka Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA)”.
“Pengembangan ide proposal ini dilaksanakan di Departemen Mikro biologi Klinik Fakultas Kedokteran UNAIR. Proposal penelitian ini mendapatkan dana hibah dalam program PKM tahun 2017 setelah lolos dalam penilaian oleh Kemenristekdikti,” jelas Safira.
Safira juga mengatakan bahwa persiapan sebelum percobaan selain pembelian alat dan bahan, juga penting untuk lulus dari sidang dari Komisi Laik Etik hewan coba. Penelitian ini dilakukan pada mencit yang diberi luka dan ditambahkan bakteri MRSA. Setelah mencit terinfeksi, diberikan perlakuan dengan pemberian perawatan luka setiap hari berupa salep clindamycin atau ekstrak daun putrid malu pada kadar tetentu. Daun putri malu mengandung senyawa aktif polifenol yang sensitif dan efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan MRSA sedangkan clindamycin merupakan anti biotik yang mampu menghambat pertumbuhan MRSA.
“Pemilihan jenis salep yang kami gunakan sebagai control dengan menguji kepekaan antibiotik clindamycin dahulu untuk membuktikan apakah benar clindamycin masih dapat menghambat MRSA atau tidak, karena bias jadi bakteri bermutasi menjadi resisten terhadap antibiotic dan clindamycin tidak dapat digunakan sebagai antibiotic MRSA,” imbuh Safira selaku ketua kelompok PKM PE.
Setelah percobaan, Safira menuturkan perlunya dilakukan uji mikro biologi dan uji histopatologi. selanjutnya, hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat mengubah paradigma di masyarakat tentang daun putri malu sebagai tanaman semak belukar menjadi tanaman obat solusi alternatif untuk menghambat bakteri MRSA yang menjadi penyebab infeksi luka terbuka di rumah sakit dengan harga yang murah dan mudah didapatkan serta nantinya dapat digunakan oleh masyarakat setelah dilakukan penelitian pada manusia.
“Selain itu hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi untuk penelitian dan pengembangan obat antimikroba dari putri malu selanjutnya,” pungkasnya.
Editor: Nuri Hermawan





