UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali membuka program Belajar Bersama Komunitas (BBK). Salah satu tujuan lokasi program BBK kali ini adalah Mojokerto. Sebanyak 500 mahasiswa berangkat ke Mojokerto dan salah satu kelompok BBK tersebut melakukan pengabdian di Desa Sugeng, Trawas pada Rabu (23/7/2025).
Survei Lapangan di Desa Sugeng
Kelompok BBK yang diketuai oleh Taufik itu melakukan analisis dalam berbagai hal di Desa Sugeng. Kelompok BBK itu menemukan salah satu permasalahan yang terdapat di desa Sugeng, yaitu kurangnya penguasaan dalam pendidikan bahasa Inggris. Mereka mendapatkan informasi dari salah satu guru di SDN Desa Sugeng, Syafi’i yang menyatakan bahwa anak-anak memiliki kelemahan dalam bidang bahasa Inggris.
Latar belakang masalah itu semakin kompleks jika dilihat melalui sudut pandang lingkungan sosial. Warga Desa Sugeng tidak menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Hal itu membuat para orang tua menghadapi kendala untuk mendampingi anak-anaknya untuk mengeksplorasi bahasa Inggris.
Salah satu wali murid anak-anak SDN Desa Sugeng, Rupiah juga mengalami kendala tersebut. “Anak-anak lemah di bahasa Inggris karena memang tidak familiar dengan bahasa tersebut dan bukan merupakan bahasa sehari-hari mereka,” ujarnya.
Kelompok Desa Sugeng itu juga melakukan survei melalui sudut pandang dari anak-anak. Anak-anak merasa bahwa bahasa Inggris merupakan mata pelajaran yang susah dan model pembelajaran yang mereka terima terasa membosankan. “Susah sekali, saya tidak paham kalau ibu guru mengajar di sekolah. Kita cuma disuruh baca buku saja,” ucap Leni, salah satu anak di Desa Sugeng.
Solusi untuk Mengatasi Masalah
Berdasarkan permasalahan itu, kelompok BBK Desa Sugeng meluncurkan program unggulan yang berjudul “1 Desa 2 Bahasa”. Mereka melaksanakan program yang menyasar siswa sekolah dasar itu di Balai Desa Sugeng. Tujuan dari program itu adalah untuk mengatasi kesulitan belajar dan menumbuhkan minat terhadap bahasa asing kepada siswa sekolah dasar melalui metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.
Kelompok BBK Desa Sugeng merancang program itu dengan pendekatan yang berbeda. Mereka menciptakan sebuah modul pembelajaran interaktif yang desainnya khusus untuk anak-anak. Modul itu berisi materi dasar yang terkemas dalam bentuk permainan, lagu, kuis, dan aktivitas kelompok yang jauh dari kesan membosankan.
Kerja Keras Membuahkan Hasil
Kelompok BBK Desa Sugeng sudah melakukan program itu sebanyak tiga kali pertemuan selama waktu dua minggu. Program itu membuahkan hasil karena menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan pertemuan pertama.
Sejak program ini berjalan, anak-anak Desa Sugeng antusias untuk belajar bahasa Inggris. Hal itu terlihat dari bertambahnya jumlah siswa dalam setiap pertemuannya. Bahkan, di antara anak-anak itu ada yang menginginkan kelas tambahan di luar jam efektif.
Keberhasilan program itu juga terletak pada ruang belajar yang kelompok BBK Desa Sugeng siapkan. Anak-anak memenuhi ruang belajar itu dengan tawa dan semangat belajar. Mereka berlomba-lomba menghafal kosakata baru serta berani menjawab setiap pertanyaan yang diberikan.
Penulis: Angelina Eugene Aurelia, Ahza Riga Falimbani
Editor: Yulia Rohmawati





