UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) terus mempertegas posisinya sebagai rumah bagi para duta dan talenta inspiratif. Melalui dedikasinya, Arifatun Nazilah, mahasiswa Manajemen Perkantoran Digital (MPD) Fakultas Vokasi (FV) berhasil mengharumkan nama kampus. Ia keluar sebagai pemenang dalam pemilihan Duta Pelajar Putri Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Timur 2026 pada Minggu (25/1/2026)
Dalam wawancara bersama UNAIR News, Zilah menjelaskan bahwa Pemilihan Duta Pelajar Putri IPPNU Jawa Timur merupakan bagian dari strategi penguatan kaderisasi pelajar putri di tingkat wilayah. Ajang ini bertujan untuk menyiapkan figur representatif yang mampu menjalankan fungsi koordinasi dan representasi organisasi lintas tingkatan kepengurusan. Khususnya melibatkan seluruh Pimpinan Cabang IPPNU se-Jawa Timur.
Berproses Sejak Sekolah Dasar
Zilah mengaku seleksi yang ia jalani berlangsung secara berjenjang dan untuk menguji kesiapan peserta secara menyeluruh. Baginya, rangkaian tahapan tersebut menjadi ruang pembelajaran yang membentuk kesiapan diri untuk menjalankan peran sebagai Duta Pelajar Putri.
Proses tersebut turut membentuk cara pandangnya dalam memaknai pencapaian yang ia raih sebagai bagian dari pengabdian organisasi. Keterlibatan panjangnya di IPPNU sejak usia dini menjadi fondasi kuat dalam menjalankan amanah untuk berkontribusi bagi penguatan kapasitas pelajar putri di Jawa Timur.
“Pencapaian ini merupakan jalan khidmah saya melalui jalur duta karena saya tumbuh dan belajar dari organisasi ini sejak kelas lima, serta saya percaya bahwa peran sebagai teladan dengan niat tulus akan membawa manfaat luas bagi sesama, sejalan dengan nilai khairunnas anfauhum linnas,” ungkap Zilah.
Soroti Rendahnya Motivasi Belajar Pelajar Putri di Daerah Pelosok
Fokus advokasi berangkat dari persoalan rendahnya motivasi belajar pelajar putri, khususnya di wilayah pelosok Kabupaten Lamongan. Kondisi tersebut ia nilai berdampak pada rendahnya kesadaran perempuan terhadap pentingnya pendidikan tinggi. Dalam banyak kasus berujung pada keputusan menikah setelah lulus sekolah menengah. Melalui ajang tersebut, isu ini sebagai agenda utama yang perlu memperoleh perhatian. Menurutnya, perempuan yang terdidik memiliki peran strategis sebagai madrasatul ula bagi generasi berikutnya.
Sebagai bentuk implementasi, Zilah menggagas program Aksi, Sosialisasi, dan Karya (AKSARA) sebagai pendekatan terpadu berbasis edukasi dan literasi. “Aksi dilakukan melalui konten media sosial, sosialisasi dilaksanakan dengan turun langsung ke sekolah-sekolah di daerah pelosok. Sementara karya diwujudkan dalam penulisan artikel serta penerbitan buku berjudul Haruskah Perempuan Berpendidikan Tinggi,” ujarnya.
Di balik keberhasilan yang ia raih, Zilah juga menghadapi tantangan dalam mengelola waktu dan tanggung jawab organisasi akibat keterlibatannya dalam lebih dari satu agenda tingkat wilayah secara bersamaan. Kondisi tersebut mendorongnya untuk membangun kedisiplinan dalam menjalankan setiap amanah.
“Saya ingin memaksimalkan peran edukasi dan advokasi terhadap berbagai persoalan yang pelajar putri hadapi. Seperti perundungan, rendahnya motivasi belajar, representasi digital, hingga isu perkawinan anak. Melalui penguatan media dan program kerja yang telah kami sepakati, saya berharap dapat menjalankan peran sebagai representasi dan perpanjangan tangan PW IPPNU Jawa Timur,” pungkas Zilah.
Penulis: Kania Khansa Nadhifa Kallista
Editor: Ragil Kukuh Imanto





