Universitas Airlangga Official Website

Makna Kebebasan bagi Muslimah Modern

stazah Qurrotul Ayun dalam Kajian Muslimah Talk Inspiring Ramadan (MUTIARA) bertajuk Kebebasan dan Ketundukan: Paradoks Muslimah Modern (Foto: Dok. Panitia)

UNAIR NEWS – Banyak muslimah hari-hari ini berbicara tentang kebebasan. Namun di saat yang sama, mereka juga masih mempertanyakan sejauh mana kebebasan dapat dijalani tanpa keluar dari batas agama. Karena itu, Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar Kajian Muslimah Talk Inspiring Ramadan (MUTIARA) bertajuk Kebebasan dan Ketundukan: Paradoks Muslimah Modern dengan menghadirkan Ustazah Qurrotul Ayun sebagai narasumber utama.

Kegiatan yang menjadi bagian dari Ramadan Mubarak Airlangga (RMA) itu berlangsung pada Selasa (24/2/2026) di Ruang Propadeus, Fakultas Kedokteran, Kampus Dharmahusada-A UNAIR. Dalam pemaparannya, ia lebih dulu mengajak peserta memahami kembali posisi manusia di hadapan Allah. Menurutnya, sebelum membahas kebebasan, muslimah perlu menyadari asal-usul keberadaannya. Dari kesadaran itulah cara seseorang memandang ketundukan akan terbentuk.

“Kita ini ada karena Allah. Dari awalnya tidak ada lalu jadi ada, tumbuh, hidup sampai hari ini itu semua karena kehendak dan pengaturan Allah. Maka ketika kita tunduk kepada Allah, itu bukan karena terpaksa. Kalau kita sadar bahwa kita ini diciptakan, diberi hidup, dan diberi kesempatan sampai hari ini, maka tunduk itu bukan tekanan. Itu posisi yang wajar,” ujarnya.

Selanjutnya, ia membahas anggapan bahwa manusia sepenuhnya bebas menentukan jalan hidupnya. Ia menilai, rasa bebas itu seringkali hanya asumsi karena dalam kesehariannya, manusia tetap berada dalam banyak ikatan. “Kita ini hidupnya selalu terikat. Terikat aturan kampus, keluarga, bahkan ekspektasi orang lain. Jadi ketika kita tunduk kepada Allah, itu bukan menambah keterikatan, tapi justru membebaskan kita dari keterikatan yang semu,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam Islam, kebebasan bukan berarti hidup tanpa aturan. Justru, kesadaran sebagai hamba membuat seseorang tahu arah dan batasnya. Ketika itu dipahami, aturan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan menjadi pegangan dalam bersikap. Dari sinilah pembahasan kemudian mengarah pada bagaimana cara pandang tersebut dijalani dalam keseharian muslimah modern.

Muslimah Modern serta Integritas Diri

Lebih lanjut, Ustazah Qurrotul Ayun mengangkat persoalan yang dekat dengan keseharian muslimah modern. Dalam keseharian yang serba cepat, ia menilai arus informasi, terutama apa yang dikonsumsi di media sosial perlahan membentuk cara berpikir dan bertindak. “Apa yang kita lihat akan kita pikirkan, apa yang kita pikirkan akan kita ucapkan. Apa yang kita ucapkan akan kita lakukan. Dan apa yang kita lakukan, lama-lama menjadi karakter,” imbuhnya.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya sikap selektif dalam mengekspresikan diri. Menurutnya, perempuan tidak harus menutup diri dari ruang publik, tetapi perlu sadar bagaimana dan untuk apa ia hadir. Sebab nilai seseorang tidak diukur dari seberapa sering tampil, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ia berikan.

“Perempuan itu bukan tidak boleh eksis. Tapi kita harus tanya, kehadiran kita ini bernilai atau tidak? Apa yang kita lakukan ini untuk siapa? Kalau untuk Allah, maka insyaAllah ada balasan yang jauh lebih baik,” pungkasnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana M

Editor: Yulia Rohmawati