Sungai bukan sekadar aliran air yang membelah lanskap, tapi merupakan rumah bagi jutaan makhluk hidup kecil yang berperan besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kelompok organisme kecil yang banyak memainkan peran tersebut adalah makroinvertebrata atau yang umum disebut dengan bentik. Bentik merupakan organisme kecil yang hidup di dasar sungai, seperti serangga air, cacing, dan larva. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Sungai Bone, Gorontalo, mengungkap betapa pentingnya peran makroinvertebrata ini dalam menilai kesehatan sungai. Dengan mempelajari keanekaragaman dan jumlah makroinvertebrata di beberapa titik sungai, untuk mengetahui seberapa baik kondisi lingkungan perairan tersebut. Penelitian ini dilakukan pada Agustus 2023 dengan memilih tiga lokasi berbeda sepanjang Sungai Bone untuk pengambilan sampelnya. Bentik ini dikumpulkan dengan alat sederhana bernama Surber net, dari dasar sungai untuk dianalisis di laboratorium. Hasilnya sangat menarik: dimana 16 famili dari 8 ordo berbeda ditemukan, termasuk kelompok seperti Ephemeroptera (larva capung mayfly), Diptera (lalat-lalatan air), dan Trichoptera (larva serangga berbulu). Spesies-spesies ini dikenal sangat peka terhadap perubahan kualitas air (bio indicator), sehingga kehadiran mereka dapat menunjukkan bahwa kondisi sungai masih cukup baik. Lebih lanjut, makroinvertebrata yang ditemukan selama penelitian cukup melimpah, yakni berkisar antara 6.000 – 10.000 individu/m2. Hal ini, mengindikasikan bahwa lingkungan sungai masih mampu mendukung kehidupan organisme bentik. Selain itu, nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener yang diperoleh berkisar antara 2,2 hingga 3,5. Artinya, semakin tinggi nilai indeks ini menunjukan semakin beragam kehidupan didalamnya (kondisi sungai sehat).
Lalu, apa pentingnya semua ini bagi kita?
Makroinvertebrata bentik bisa diibaratkan seperti “sensor biologis” alami. Mereka hidup menetap di satu tempat dalam waktu lama dan sangat peka terhadap polusi atau perubahan lingkungan. Berbeda dengan pengukuran kualitas air yang bersifat sesaat, kehadiran atau hilangnya spesies tertentu bisa menunjukkan adanya gangguan lingkungan yang dalam waktu yang cukup lama. Dengan kata lain, jika makroinvertebrata yang sensitif mulai menghilang dan hanya tersisa spesies yang tahan polusi, maka itu bisa menjadi sinyal bahwa sungai sedang dalam kondisi tidak sehat. Penelitian di Sungai Bone ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis biologi bisa sangat efektif untuk pemantauan lingkungan. Bahkan, bisa menjadi alat pendukung penting dalam pengambilan kebijakan lingkungan di tingkat daerah. Ke depannya, pelibatan masyarakat lokal dan pelajar dalam pemantauan makroinvertebrata bisa menjadi strategi edukatif yang menarik. Tak hanya mengenalkan keanekaragaman hayati lokal, tapi juga membangun kesadaran akan pentingnya menjaga sungai tetap bersih dan lestari.
Penulis: Suciyono, S.St.Pi., M.P.
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





