UNAIR NEWS – Himpunan Mahasiswa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (HIMA K3) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kegiatan Sharing Session bertajuk From Campus to Career: Strategi Lolos MT, GDP, FGDP & Pro Hire untuk Mahasiswa K3. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring tersebut mengundang Utari Rizky Utami S Psi sebagai narasumber. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Minggu (31/8/2025).
Dalam sambutannya, Koordinator Program Studi K3 UNAIR, Tofan Agung Eka Prasetya S Kep M KKK PhD menyebutkan bahwa kegiatan sharing session tersebut akan berguna bagi mahasiswa. Mahasiswa dapat memperoleh insight dari praktisi di lapangan.
“Pengalaman dari para praktisi tersebut dapat membangun karakter mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja yang sebenarnya. Oleh karena itu, harapan saya acara tersebut dapat diikuti dengan baik oleh seluruh peserta,” ucapnya.
Tidak hanya itu, Wakil Dekan 1 Fakultas Vokasi, Prof Dr Tika Widiastuti S E M Si menyatakan bahwa topik yang diangkat dalam kegiatan tersebut sangat relevan dan penting berkaitan dengan strategi karir yang perlu diketahui mahasiswa. Ia berharap melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mempersiapkan diri sehingga bisa sukses berkarir di bidang ilmu K3.
“Saat ini kita masih memiliki tantangan terkait employee ability sehingga kegiatan webinar atau seminar offline berkaitan dengan pendampingan karir sangat positif. Tentu harapannya berdampak signifikan bagi mahasiswa untuk bisa mengembangkan karirnya dengan baik khususnya berkaitan dengan bidang ilmunya masing-masing,” ujar Prof Tika.
MT, GDP, FGDP, dan Pro Hire
Utari menjelaskan terdapat program kedinasan dalam rekrutmen antara lain Management Training (MT), Graduate Training Program (GTP), dan Fresh Graduate Development Program (FGDP). Di sisi lain, ada juga program lainnya yaitu Pro Hire. Terkait perbedaan keduanya, ia menjelaskan bahwa program percepatan ditujukan untuk program pengembangan talenta intensif untuk mengisi posisi-posisi strategis, sedangkan program Pro Hire ditujukan untuk mengisi posisi spesifik dengan penerimaan langsung.
“Mana yang cocok untuk Anda, itu tergantung keputusan kalian masing-masing. Mumpung masih muda bisa disiapkan sejak dini kedepannya kalian ingin seperti apa,” pesannya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa program kedinasan seperti MT, GTP, dan FGDP memiliki tekanan yang cukup tinggi. Sehingga program tersebut cocok untuk orang yang menyukai hal-hal yang menantang.
“Untuk program kedinasan biasanya membutuhkan waktu 2 tahun, ada assessmentnya dua kali dalam setahun, ada sidangnya dan interviewnya yang bisa sampai ke skala internasional. Oleh karena itu, untuk ikut program kedinasan wajib bisa bahasa Inggris karena akan berhadapan langsung dengan top tiernya,” tambahnya.
Program kedinasan, sambungnya, memang cukup menantang tetapi ada buah manisnya karena dalam waktu 2 tahun sudah bisa menjajaki level manajerial dan langsung menjadi pegawai tetap. Berbeda dengan program Pro Hire yang menjajaki dari level bawah.
“Gaji awal untuk MT, GTP, dan FGDP selalu kompetitif dan cukup besar, berbeda dengan Pro Hire karena tergantung posisi. Pro Hire ini masih standar karena secara pressure memang berbeda dengan program MT, GTP, dan FGDP,” tambahnya.
Tips Lolos Rekrutmen
Utari membagikan beberapa tips yang bisa dipersiapkan mahasiswa UNAIR untuk rekrutmen diantaranya yaitu membuat CV yang menonjol dan bungkus pengalaman sebaik mungkin. “Tetapi tidak terlalu berlebihan dan jangan berbohong, sewajarnya saja. Jangan lupa perbanyak ikut pelatihan, sertifikasi dan selalu perbarui pengetahuan kalian terkait K3” ungkapnya.
Lanjutnya, mahasiswa dapat menentukan jalur karir mulai sekarang. Lalu, tingkatkan keterampilan dan jaga profesionalisme, jujur dan beretika dalam setiap interaksi untuk membangun reputasi positif. “Ingat kalian membawa almamater kalian, mau sampai kapanpun selama kalian masih mau bekerja, jaga nama baik almamater kalian,” tegasnya.
Terakhir, Ia mengingatkan mahasiswa untuk membuat LinkedIn yang dapat menjadi platform dalam membangun jaringan atau relasi. Menurutnya penting untuk memperbarui LinkedIn dan membuatnya semenarik mungkin. “Sebisa mungkin lebih interaktif di LinkedIn karena untuk mencari pekerjaan sekarang perlu diperbanyak channel dan tidak boleh pasif,” pungkasnya.
Penulis: Septy Dwi Bahari Putri
Editor: Khefti Al Mawalia





