UNAIR NEWS – Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga (UNAIR) Desa Nglanduk, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, menggelar kegiatan Masak Bersama UNAIR berupa demo memasak dimsum ikan kembung sekaligus sosialisasi stunting. Kegiatan ini berlangsung di Balai Desa Nglanduk pada Rabu (14/1/2026) pukul 14.30 WIB hingga selesai dan menyasar ibu-ibu PKK yang memiliki anak di usia pertumbuhan.
Penanggung jawab kegiatan tersebut adalah Salmanisa Charis Sahiya dari Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Ia menegaskan program ini bertujuan meningkatkan pemahaman stunting sekaligus keterampilan mengolah makanan bergizi. “Kami ingin ibu-ibu PKK lebih paham tentang stunting sekaligus bisa praktik langsung mengolah makanan bergizi untuk anak-anak,” ujarnya.
Edukasi Stunting dan Pengenalan Ikan Kembung sebagai Pangan Lokal Bergizi
Stunting merupakan masalah gizi yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga perlu mendapat pencegahan sejak dini. Mahasiswa BBK 7 Desa Nglanduk menghadirkan program ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang gizi seimbang melalui konsumsi protein hewani.
Mahasiswa memilih dimsum karena mudah diolah dan disukai anak-anak sehingga cocok sebagai menu alternatif bergizi. Pemilihan ikan kembung karena mudah didapat, terjangkau, kaya protein dan omega-3, serta lebih rendah kalori dibanding ikan salmon. “Kami memilih ikan kembung karena lokal, terjangkau, dan gizinya tinggi untuk mendukung tumbuh kembang anak,” jelas tim.
Proses Memasak Dimsum, Hasil Akhir, dan Harapan Keberlanjutan
Rangkaian kegiatan bermula dengan pembukaan oleh Ketua BBK 7 Desa Nglanduk, sambutan Ibu Kepala Desa Nglanduk, dan pemaparan materi stunting oleh Bidan Ambarwati. Selanjutnya, ibu-ibu PKK mengikuti demo memasak dimsum ikan kembung bersama mahasiswa dan kegiatan berakhir dengan dokumentasi.
Mahasiswa menyiapkan daging ayam fillet 1,5 kilogram, ikan kembung 1 kilogram, empat butir telur, saos tiram, kecap asin, minyak wijen, wortel, tepung tapioka 500 gram, bawang putih, bumbu pelengkap, serta kulit dimsum dua bungkus. Adonan dihaluskan, dicampur bumbu, dibungkus, lalu dikukus 10–15 menit hingga matang. Hasil akhir menghasilkan ±80 pcs dimsum gurih dan memuaskan serta mendapat respons positif. “Dengan adanya demo memasak ini, kami jadi punya ide makanan baru yang sehat dan bergizi untuk anak-anak,” ungkap salah satu ibu PKK.
Inovasi ini juga berpotensi menjadi ide usaha rumahan/UMKM meski pembahasan pengemasan masih sebatas penyimpanan. Selama kegiatan tidak terdapat kendala dan acara berjalan lancar. Mahasiswa berharap program ini berkelanjutan dan berkembang menjadi variasi menu bergizi lain berbahan pangan lokal.
Penulis: Dara Devinta Faradhilla
Editor: Ragil Kukuh Imanto





